Surabaya

Mahasiswa Papua di Surabaya Tolak Kibarkan Merah Putih Berujung Kekerasan

mengenai tindakan Kepolisian mengamankan seluruh penghuni asrama dalam konteks penyelidikan untuk mencari pelaku penganiyaan.

Mahasiswa Papua di Surabaya Tolak Kibarkan Merah Putih Berujung Kekerasan
mohammad romadoni
Anggota Ikatan Keluarga Besar Papua Surabaya (IKBPS) Surabaya saat menggelar jumpa pres di halaman Mapolrestabes Surabaya terkait kasus penganiayaan di asrama mahasisw Papua 

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Ikatan Keluarga Besar Papua Surabaya (IKBPS) Surabaya sangat menyayangkan terjadinya kasus penganiayaan terhadap anggota Organisasi Masyarakat (Ormas) di dalam asrama mahasiswa Papua Kamasan III di Jalan Kalasan Nomor 10 Tambasari, Surabaya.

Ketua Ikatan Keluarga Besar Papua Surabaya (IKBPS), Piter F Rumaseb, menyatakan kejadian di asrama Kamasan III bukan tindakan diskriminatif atau rasial oleh warga Surabaya kepada sejumlah penghuni asrama mahasiswa Papua. Namun karena adanya penolakan saat pemasangan bendera untuk menyambut HUT RI Ke-73.

Menurut dia, warga Papua yang tinggal di Surabaya tidak pernah mempunyai masalah dengan warga Kota Surabaya. Pasalnya, keributan di asrama Papua itu sempat berhembus isu mengenai perlakuan diskriminatif.

"Saya ingin meluruskan terkait isu tindakan diskrimatif dan rasial oleh warga Kota Surabaya adalah tidak benar dan tidak berdasar," ujarnya di Mapolrestabes Surabaya, Kamis (16/8/2018).

Piter menjelaskan sebagai perwakilan warga Papua di Surabaya justru sepenuhnya mendukung proses hukum oleh Polrestabes Surabaya untuk menyelidiki kasus dugaan penganiayaan yang melibatkan warga Papua di asrama.

"Kami melihat bahwa apa yang terjadi di asrama Kamasan lll murmi permasalahan hukum atau tindak pidana," ungkapnya.

Dia mengatakan mengenai tindakan Kepolisian mengamankan seluruh penghuni asrama dalam konteks penyelidikan untuk mencari pelaku penganiyaan. Sebab, ketika negosiasi sempat alot hingga mendapat penolakan dari penghuni asrama.

Saat itu penghuni asrama menyatakan apabila salah satu yang dibawa oleh Polisi maka semuanya meminta untuk turut dibawa juga. Inilah yang memicu tuduhan tindakan Kepolisian melakukan represif terhadap warga Papua di dalam asrama.

"Tindakan aparat Kepolisian adalah murni penegakan hukum terkait dengan penganiyaan, tidak berkaitan dengan penolakan pemasangan bendera di asrama Kamasan lll," jelasnya.

Dia telah memastikan sekitar 48 penghuni asrama yang dibawa ke Polrestabes Surabaya memang untuk keperluan penyelidikan.

Mereka dimintai keterangan terkait kasus penganiayaan. Setelah dilakukan pendataan mereka dikembalikan ke asrama diantar mengendarai dua truk Sat Sabhara Polrestabes Surabaya dengan penjagaan ketat.

"Semua penghuni asrama pagi tadi sudah
dipulangkan," pungkasnya.

Penulis: Mohammad Romadoni
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help