Malang Raya

Agar Tetap Hidup, Kampung Tematik di Kota Malang Harus Diisi Oleh Peran Serta Masyarakat

Sehingga kegiatan mahasiswa UM di Kampung Warna Warni diharapkan bisa menjadi bagian menjaga keberlangsungan kampung tematik

Agar Tetap Hidup, Kampung Tematik di Kota Malang Harus Diisi Oleh Peran Serta Masyarakat
SURYAMALANG.COM/Sylvianita Widyawati
Aksi teatrikal mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) memanfaatkan batu kali di antara Kampung Warna-Warni dan Kampung Tridi, Minggu (23/9/2018). 

SURYAMALANG.COM, BLIMBING - Kampung tematik di Kota Malang harus diisi dengan peran serta masyarakat. Ini untuk menunjang keberlangsungan kampung itu.

"Kalau hanya buat foto-fotoan saja yang sudah. Misalkan yang sudah pernah datang dan berfoto, mungkin tidak mau datang lagi," ujar Robby Hidajat, dosen Universitas Negeri Malang (UM) pada SURYAMALANG.COM, Minggu (23/9/2018).

Hal itu disampaikan dalam wawancara di sela kegiatan pentas "Out of Frame" mahasiswa prodi Pendidikan Seni Tari dan Musik UM di Kampung Warna Warni.

Sehingga peran perguruan tinggi sebagai partisipasi dari masyarakat ada di sana. Bisa juga melibatkan yang lainnya. Kata dia, jika kampung-kampung tematik tidak diisi peran serta masyarakat, nanti akan mati sendiri.

Baca: Mahasiswi UM Suguhkan Pertunjukan Tari, Musik dan Drama di Kampung Warna-Warni Kota Malang

Sebab untuk menghidupkan atau menjaga keberlangsungan kampung tematik, pengelola kampung juga harus punya konsep. Sedang untuk menunggu peran pemerintah pasti juga agak lama.

Sehingga kegiatan mahasiswa UM di Kampung Warna Warni diharapkan bisa menjadi bagian menjaga keberlangsungan kampung tematik.

"Tapi memang masih belum masuk agenda pariwisata," kata Robby.

Jika bisa masuk, akan menarik. Karena pihaknya selalu menyajikan hal yang berbeda setiap tahunnya di kampung itu. Tepatnya sudah tiga kali mahasiswa UM pentas disana dengan tema yang beda.

Pentas di pinggir kali Brantas memang terlihat unik. Sepanjang mata memandang, 250 mahasiswa bergantian tampil. Meski kepanasan, namun penonton yang datang cukup banyak.

Ada yang nonton dari Kampung Tridi, dari jembatan kaca, dari jendela rumah warga, dari atas jembatan Bok Glodog atau dari kereta api yang melintasi kampung itu.

Penulis: Sylvianita Widyawati
Editor: eko darmoko
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help