Nasional

Pastikan Mundur Dari Utusan Khusus Presiden, Din Syamsudin Bakal Bertemu Presiden Jokowi

Alasan dirinya mundur dari jabatan utusan khusus presiden ingin menjalankan ajaran wasathiyah (penengah) dalam Pilpres 2019

Pastikan Mundur Dari Utusan Khusus Presiden, Din Syamsudin  Bakal Bertemu Presiden Jokowi
surya malang/Hanif Manshuri
Din Syamsudin saat hadir di Stikes Muhammadiyah Lamongan 

SURYAMALANG.COM, LAMONGAN - Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Periode 2005- 2015, sekaligus Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Din Syamsudin, Senin (24/9/2018) siang ini akan bertemu Presiden RI, Joko Widodo. Hal itu untuk memastikan pengunduran dirinya dari jabatan utusan khusus presiden bidang dialog antar agama dan peradaban.

"Surat pengunduran diri sudah saya kirim pada Jumat (21/9) kemarin," kata Din Syamsudin saat mengisi acara dihadapan warga Muhammadiyah di STIKES Muhammadiyah Lamongan Jawa Timur, Minggu (23/9/2018) sore.

Din Syamsudin mengungkapkan, alasan dirinya mundur dari jabatan utusan
khusus presiden bidang dialog antar agama dan peradaban dengan
pertimbangan ingin menjalankan ajaran wasathiyah (penengah) di perhelatan Pilpres 2019.

Apa yang menjadi keputusannya itu juga agar tercipta pemilu bermartabat.
Prinsipnya kenetralan dirinya sebagai penasehat MUI juga menjadi pertimbangan agar jangan sempai terjadi perpecahan umat.

"Harapan saya, pemilu yang akan datang berjalan damai dan bermartabat," katanya.

Kedua calon yang maju dalam Pilpres 2019 merupakan teman baiknya, dan dikenalnya baik.

Din Syamsudin memastkikan pihaknya akan menggunakan haknya pada Pilpres 2019. "Pada saatnya akan saya tunjukkan," katanya.

Bahkan dirinya akan menjalankan politik sesuai kaidah Muhammadiyah.  Kepada warga Muhammadiyah, Din Syamsudin menandaskan kalau sudah saatnya Muhammadiyah ber-ijtihad lewat jalur politik, karena itu sangat sejalan dengan sejarahnya yang tidak pernah diam dalam urusan politik.

Jihad politik Muhammadiyah pertama kali di mulai saat KH Ahmad Dahlan, masuk gerakan Budi Oetomo, kemudian dilanjutkan sumpah pemuda.

"KH Dahlan memandang politik itu penting, sehingga beliau ikut dalam gerakan politik pada saat itu" ungkapnya
Namun ditambahkan, sampai saat ini Muhammadiyah tidak berpolitik praktis, tetapi Muhammadiyah Ijtihad dibidang politik.

"Agar Muhammadiyah tidak dipandang sebelah mata, maka harus didukung secara maksimal, agar mampu berperan memperbaiki kondisi bangsa" tutur Din.

Penulis: Hanif Manshuri
Editor: Achmad Amru Muiz
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved