Citizen Reporter

Karnaval dan Kirab Budaya Mengambil Tema 'Panawijen Bangkit'

Hal itu tertulis dalam Prasasti karundungan Kanjuruhan B sekitar 1074 tahun yang lalu. Sejarah Polowijen (dulu Panawidyan, Panawijen)

Karnaval dan Kirab Budaya Mengambil Tema 'Panawijen Bangkit'
Punden makam Ki Tjondro Suwono atau Mbah Reni dan situs sumur Windu Ken Dedes yang semuanya menjadi Situs Cagar Budaya di Polowijen, Kota Malang. 

SURYAMALANG.COM - Diperkirakan 4.000 warga Polowijen, Kecamatan Blimbing, Kota Malang akan tumpah ruah keliling Polowijen melakukan iring-iringan dalam bentuk karnaval dan kirab budaya Polowoijen  dalam rangka 'Bersih Desa Polowijen 2018'.

Menurut panitia pelaksana Bersih Desa Polowijen 2018, Ki Demang, tema 'Panawijen Bangkit' diangkat dengan alasan sejarah dan kejayaan Panawijen.

Hal itu tertulis dalam Prasasti karundungan Kanjuruhan B sekitar 1074 tahun yang lalu. Sejarah Polowijen (dulu Panawidyan, Panawijen) ada juga yang menyebut Palawijen telah mengalami beberapa fase kejayaan.

Fase pertama, Panawijyan menyandang status ‘sima’ (swatantra) pada abad ke-10. Yakni sebuah desa agraris yang maju pada jamannya. Sistem irigasi tertata dan memiliki teknologi pertanian yang maju.

Memasuki akhir abad ke-12 di dalam kitab Pararaton berubah nama menjadi Panawijen. Saat itu berkembang menjadi aliran Mandala Mahayana Buddhisme dipimpin Mpu Purwa, ayahnya Ken Dedes. Di Panawijen, Ken Dedes, yakni Sang Strinareswari hidup dan di besar di lingkungan mandala itu.

"Dari rahim Ken Dedes lahir keturunan raja-raja besar di Jawa. Penemuan Arca Pratyaparamita atau Dewi Ilmu Pengetahuan tertinggi dan perkembangan Mandala Buddhis di Polowijen menjadi bukti Malang merupakan basis pendidikan lintas masa," ungkap Ki Demang.

Fase kedua, pada akhir 1500-an masuk agama Islam dan berkembang pesat di Polowijen seiring dengan merosotnya kekuasaan Mojopahit.

Fase ini, Polowijen berdiri pondok pesantren yang diduga ada "pesantren" pertama di Malang. Sekaligus menjadi pusat penyebaran pendidikan dan agama Islam yang dibawa oleh Buyut Jibris dari Demak dan cucunya Buyut Sangke yang kemudian mendirikan pondok pesantren di Polowijen.

"Sehingga Polowijen merupakan daerah basis penyebaran agama Islam dan pendidikan di Kota Malang masa itu," ujarnya.

Fase ketiga, berkembangnya kebudayaan dan seni tradisi yang sekaligus menjadi icon budaya Malang salah satunya topeng Malang. Situs makam Ki Tjondro Suwono atau dikenal Buyut Reni menjadi saksi perkembangan Topeng Malangan. Epos Panji menjadi kisah tunggal dalam kesenian tari topeng, wayang topeng, dan wayang purwa di Malang.

"Bupati Malang Raden Ario Suryodiningrat IV yang memimpin pada akhir 1800-an menobatkan Buyut Reni sebagai Mpu Topeng Malang. Catatan sejarah menurut Ong Hok Ham (1933) membuktikan kesenian topeng bermula dan berpusat di Polowijen," ungkapnya.

Dijelaskan Ki Demang, ketiga fase itulah yang menjadi cikal bakal pelestarian tradisi dan pengembangan seni budaya dan pengutan nilai-nilai religi di Polowijen. Karena di awal abad ke -19 beberapa kesenian lainnya selain wayang topeng seperti, wayang wong, wayang jedong, wayang kulit, wayang ope, ludruk, pencak silat, bantengan dan terbangan juga pernah berkembang dan lestari di Polowijen.

"Jika disimpulkan, Polowijen merupakan daerah yang menginspirasi bagi daerah lain sehingga muncul berbagai ragam seni tradisi kebudayaan serta kerajinan yang membuat daerah-daerah lain bisa ikut berjaya pada masanya," pungkasnya. Adi H

Tags
Malang
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved