Malang Raya

Giliran Diadili, Bekas Anggota DPRD Kota Malang ini Mengaku Gila!

Kata Arief, istilah THR yang dimaksud para saksi itu adalah uang pokok pikiran, sampah, dan beragam gratifikasi.

Giliran Diadili, Bekas Anggota DPRD Kota Malang ini Mengaku Gila!
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Priyatmoko Oetomo saat masih berstatus anggota DPRD Kota Malang berada di ruang tunggu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Jakarta untuk menjalani pemeriksaan, Jumat (13/10/2017). Politisi PDI Perjuangan itu diperiksa sebagai saksi untuk tersangka mantan Ketua DPRD Kota Malang Moch Arief Wicaksono terkait kasus gratifikasi pembahasan APBD Kota Malang tahun 2015. 

"Bilangnya tidak tahan lama untuk duduk karena sakit, padahal saat itu tim jaksa mempersilakan untuk tidak hadir pada saat persidangan, tapi saat kami pantau perkembangannya ternyata yang bersangkutan tetap menjalankan fungsi DPRDnya, bahkan aktif, terakhir kami secara langsung melihat sendiri kondisinya di Terminal 1 Juanda pada 29 Agustus 2018 lalu saat acara penutupan Asian Games 2018, semua anggota DPRD melakukan kunjungan kerja termasuk Pak Moko," kata Arief.

Saat dipantau jaksa, posisi jalan Priyatmoko terlihat tegak, bahkan tidak terlihat seperti sakit seperti halnya orang sakit yang harus dituntun memakai kursi roda atau sebagainya.

Menurut Arief, hal itulah yang melatarbelakangi bahwa keraguan bahwa apakah betul sakit itu bukan berarti tak bisa memberikan keterangan.

Arief meyakini, ada juga saksi atau terdakwa yang sakit permanen namun memang tidak bisa melakukan apa-apa sehingga benar-benar tak bisa memberikan keterangan.

"Kami lihat secara nyata dia bisa beraktivitas bahkan bertolak belakang, karena bisa naik pesawat tanpa ada bantuan kursi roda," ucapnya.

Menurut Arief, tim yang menangani kasus gratifikasi DPRD Malang merupakan tim yang menangani kasus E-KTP Setya Novanto.

Sehingga, lanjut Arief, pihaknya tentu sangat paham perihal tersebut.

"Kami lihat fakta persidangan e-KTP pada Setya Novanto sehingga kami anggap apa yang disampaikan dalam surat keterangan medis itu tak sinkron dengan aktivitas yang bersangkutan," pungkasnya. Pradhitya Fauzi

Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help