Bisnis
Kampung Opak Gambir Kota Blitar, Inovasi Kemasan Menjadi Souvenir Untuk Hajatan
Makanan opak gambir Kota Blitar sudah menjadi gaya hidup warga karena dikemas menjadi souvenir hajatan dan lainya
Penulis: Samsul Hadi | Editor: Achmad Amru Muiz
SURYAMALANG.COM, BLITAR - Kelurahan Plosokerep Kecamatan Sananwetan Kota Blitar, selama ini terkenal sebagai kampung opak gambir. Hampir semua warga di kelurahan itu memproduksi jajajan tradisional berbahan baku kelapa, beras ketan, dan gula tersebut.
Empat pekerja sibuk memproduksi opak gambir di toko milik UD Wijaya Kusuma, Jalan Kemuning, Kelurahan Plosokerep Kecamatan Sananwetan Kota Blitar, Selasa (23/10/2018). Satu pekerja pria terlihat berdiri sambil mencetak opak gambir memakai mesin.
Dua pekerja perempuan lainnya tampak duduk menghadap cetakan opak gambir manual yang diletakkan di atas kompor. Tangan mereka terlihat cekatan menuangkan adonan bahan opak gambir ke cetakan. Dalam sekejap, adonan yang dituang ke cetakan itu diangkat lalu digulung menggunakan jari.
Satu pekerja perempuan lagi tampak tekun mengemas opak gambir yang selesai dicetak ke dalam plastik. "Toko ini memang didesain sebagai galeri opak gambir. Selain untuk memasarkan produk, pembeli juga bisa melihat langsung proses pembuatan opak gambir di sini," kata pemilik UD Wijaya Kusuma, Dian Kartikawati.
Dian juga sebagai ketua paguyuban perajin opak gambir di Kelurahan Plosokerep. Ada 32 perajin opak gambir di kelurahan itu. Tapi, yang gabung di paguyuban baru 20 orang. Dengan adanya paguyuban itu, para perajin tidak hanya fokus memproduksi, tapi juga berusaha mengembangkan wisata edukasi opak gambir di Plosokerep.
"Di tempat saya ini memang untuk wisata edukasinya. Kalau ada tamu datang, dibawa ke sini untuk melihat proses pembuatan opak gambir. Hampir semua warga di sini memproduksi opak gambir, ada yang sudah turun temurun sejak kakek neneknya dulu," ujarnya.
Menurutnya, saat ini opak gambir bukan hanya sekadar penganan tradisional khas Blitar. Tetapi, opak gambir juga sudah menjadi gaya hidup, khususnya bagi masyarakat Kota Blitar. Sekarang, opak gambir dikemas menjadi souvenir bagi warga yang sedang memiliki hajatan.
Tak hanya itu, secara rasa dan bentuk juga terus berkembang. Para perajin mengembangkan bermacam variasi rasa opak gambir. Kalau dulu hanya ada rasa wijen dan jahe, sekarang ada banyak variasi rasa buah-buahan pada opak gambir. Mulai rasa nangka, durian, jambu, nanas, sampai ubi ungu.
Bentuk opak gambir juga bermacam-macam. Mulai bentuk gulungan memanjang, bentuk mirip bunga mawar, hingga bentuk lipatan. Warna opak gambir juga menarik. Warnanya menyesuaikan rasa. Misalnya, opak gambir rasa nanas diberi warna kuning mencolok.
"Saat ini, opak gambir sudah menjadi gengsi. Di Kota Blitar, warga yang punya hajatan belum afdol kalau tidak ada jajanan opak gambir. Sekarang opak gambir dijadikan souvenir. Tiap tahun, opak gambir juga dijadikan bingkisan saat Lebaran dan Natal," ujarnya.
Untuk pemasaran, kata Dian, lebih mengutamakan pesanan dalam kota. Menurutnya, para perajin sudah kewalahan melayani pesanan di dalam kota. Tapi, sebagian produk opak gambir juga dikirim ke luar kota seperti Malang, Tulungagung, bahkan sampai Kalimantan. Satu perajin, rata-rata memproduksi sekitar 760 kilogram opak gambir dalam seminggu.
Dikatakannya, pada 2015, paguyuban perajin opak gambir Plosokerep sempat mengekspor produk ke Tiongkok. Mereka sempat dua kali mengirim produk ke negara tirai bambu itu. Sempat terjadi perjanjian kerja sama juga antara perajin dengan pengusaha di Tiongkok.
Dalam perjanjian kerja sama itu, para perajian diminta mengirim satu ton opak gambir per minggu ke Tiongkok. Tetapi, kerja sama itu batal, karena para perajin tidak sanggup memenuhi persyaratan dari pengusaha tiongkok.
"Kalau soal jumlah, kami sanggup mengirim satu ton opak gambir per minggu. Yang membuat kami mundur ada persyaratan lebar opak gambir harus sama semua. Itu yang kami belum sanggup, karena pembuatan opak gambir rata-rata masih manual," katanya.