Pilpres

Generasi Milenial Diharapkan Bisa Jadi Penangkal Efek Negatif Politik Aliran

Politik identitas atas dasar agama menjadi lahan subur saat ini. Politik identitas berpotensi menimbulkan perpecahan.

Generasi Milenial Diharapkan Bisa Jadi Penangkal Efek Negatif Politik Aliran
suryamalang.com/Bobby Constantine Koloway
Pengamat Sosial Politik, RM Dr Haryatmoko, memberikan sambutan pada Seminar bertajuk "Peran Generasi Milenial dalam menghadapi Politik Identitas" dalam rangka HUT 70 Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS). 

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Politik aliran yang bersifat sektarian dinilai masih menjadi isu utama dalam pemilu 2019 mendatang. Mengantisipasi dampak negatif hal ini, anak muda yang juga disebut generasi milenial bisa menjadi penangkal.

Hal inilah yang menjadi pokok bahasan dalam Seminar bertajuk "Peran Generasi Milenial dalam menghadapi Politik Identitas" dalam rangka HUT 70 Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS), Minggu (28/10/2018).

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Provinsi Jawa Timur, Jonathan Judianto, yang hadir pada acara ini mendorong anak muda untuk tak alergi terhadap politik. "Anak muda harus melek politik," kata Jonathan pada penjelasannya.

Generasi milenial harus memahami bahwa Indonesia beragam dan kaya. "Kalau memahami ini semua kami memiliki keyakinan akan ada generasi yang tumbuh dengan toleransi yang tinggi," katanya.

Politik aliran seringkali menimbulkan politik identitas yang berpotensi menimbulkan perpecahan. Yang mana, politik aliran seringkali digunakan untuk menggalang suara.

"Itu kan sebagai cara saja untuk mendapatkan suara. Padahal, yang dibutuhkan adalah vote bukan voice. Pada intinya, kami tidak berharap politik identitas bisa berkonotasi negatif," katanya.

Pengamat Sosial Politik, RM Dr Haryatmoko yang hadir pada acara ini juga menyampaikan bahwa politik identitas atas dasar agama menjadi lahan subur saat ini. Agama seringkali menggeser diskusi tentang nilai yang mengajarkan tentang pentingnya diskusi di ruang publik.

Sehingga, hal ini menimbulkan proses pemaksakan nilai-nilai. "Akhirnya hal ini mengobok-obok emosi sehingga mengabaikan rasionalitas dan objektivitas," urainya di tempat yang sama.

Untuk mengantisipasi hal ini, generasi milenial sudah selayaknya atau bersikap kritis mengklarifikasi berbagai isu yang mengemuka. Bukan sekadar "sepakat" tanpa menghiraukan aspek-aspek rasionalitas.

Oleh karenanya, ada beberapa hal yang bisa dilakukan generasi milenial. Pertama, melakukan klarifikasi atau mengecek berbagai sumber. Kedua, selalu mempertanyakan siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan.

Ketiga, juga harus meneliti konten yang disampaikan. "Kalau isinya terkait dengan ketidakadilan, prasangka buruk, diskriminasi, hingga menyebarkan kebencian, maka mulailah untuk curiga," ujar pria yang menyelesaikan gelar doktor di bidang Antropologi dan Sejarah Agama-agama di Universitas Sorbonne-Paris IV dan Etika Politik (Moral Sosial) di Institut Catholique de Paris, Perancis ini.

Berikutnya, kalau telah menemukan beberapa hal itu Sudah Selayaknya Untuk mendengarkan pihak lain. "Terakhir ini yang biasanya kita lemah," pungkasnya.

Selain keduanya, hadir pula pegiat Anti Intolenransi dan deskriminasi, Aan Ansori dan pegiat media sosial, Denny Siregar di acara ini. 

Penulis: Bobby Constantine Koloway
Editor: Achmad Amru Muiz
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved