Kota Batu

Mbah Said, Jual Es Campur Keliling di Kota Batu Sejak 1954 Hingga Kini Umur 80 Tahun

Said sudah sangat lama berjualan es campur di samping Masjid Annur Kota Batu. Ia mulai berjualan sejak tahun 1954.

Mbah Said, Jual Es Campur Keliling di Kota Batu Sejak 1954 Hingga Kini Umur 80 Tahun
sany eka putri
Muhammad Said (80 tahun) saat melayani pembeli di samping Masjid Annur, Batu, Selasa (30/10/2018). 

SURYAMALANG.COM, KOTA BATU - Menggunakan peci dan baju warna warni, Muhammad Said (80) disibukkan dengan melayani pembeli, Selasa (30/10).

Ya Mbah Said merupakan warga Kota Batu yang menjual es campur. Saat melayani pembeli ia memastikan jika semua bahan untuk es campur lengkap.

Di meja lengkap dengan bahan-bahan es campur, seperti roti, mutiara, gula cair, agar-agar, kacang hijau, tape ketan hitam. Said masih menggunakan serutan es Batu secara manual. 

Said sangat dikenal di tempatnya berjualan. Bahkan saking akrabnya, beberapa pembeli cukup berteriak untuk memesan es campur.

'Pak es campur lima ya. Nanti saya ambil saya ngantar anak dulu," ucap seorang pembeli yang melewati lokasi berjualannya tanpa memarkirkan sepeda motornya.

Said pun mengiyakan pesanan itu. Bagaimana tidak dikenal oleh warga Kota Batu, Said sudah sangat lama berjualan es campur di samping Masjid Annur Kota Batu. Ia mulai berjualan sejak tahun 1954.

Sembari melayani pembeli, Said pun bercerita awal mula ia berjualan es campur ini karena untuk biaya nikah.

Di usianya yang masih 16 tahun saat itu, ia berusaha mencari uang sendiri untuk bisa membiayai nikahnya. "Kalau istilahnya minta terus sama orangtua itu kan sungkan. Jadi ya saya kerja, dan berjualan es campur," kata Said yang lebih senang dipanggil 'Mbah Said'.

Es campur yang ia buat itu harganya juga berubah-ubah. Mulai pertama kali berjualan ia jual seharga 50 sen sampai tahun 1958. Lalu naik jadi 75 sen. 

Harga untuk pelajar ia khususkan jauh lebih murah. Saat ini satu porsi es campur ia jual seharga Rp 5000. Namun suami dari Kasiatun itu tidak begitu mempermasalahkan soal harga.

Bahkan jika ada pelajar yang ingin minum es campurnya, ia berikan dengan harga murah. "Kalau pelajar mau beli berapa sih, 3000 rupiah saja boleh. Kalau ada tiga anak sekolah, saya kasih satu gratis," imbuhnya.

Ia menceritakan, tetap bertahan berjualan es campur karena sudah banyak pelanggan setianya yang rela jauh-jauh untuk menikmati es campur buatannya. Seperti ada warga Lamongan yang kangen minum es campurnya rela menghampiri dia dan sekalian berwisata ke Kota Batu.

Bahkan ia juga memiliki kenangan terhadap mantan Wali Kota Batu, Edy Rumpoko (ER). Di warung kecilnya, ada satu kursi dipojok yang selalu diduduki oleh ER. "Beliau selalu nunggu saya berjualan di pojok sini (menunjuk kursi). Sampai malam saya ditungguin, sering bapak minum es di sini. Ya dipojok sini sambil bersembunyi," ungkapnya diiringi tertawa kecil mengingat masa-masa itu.

Said juga berpindah-pindah tempat untuk berjualan. Mulai dari sisi Alun-Alun Batu, di Pasar Batu, dan sekarang di samping Masjid Annur. Ia mulai berjualan pukul 9 pagi hingga jam 11 malam.

Selama berjualan 64 tahun ia pun memiliki beberapa harapan. Seperti memiliki tempat berjualan sendiri, tidak numpang di jalan milik pemkot Batu. "Tapi tidak pernah kena gusuran. Jika memang diusir, ya saya tidak melawan, karena kan memang saya numpang berjualan di sini," pungkas dia. 

Tags
Kota Batu
Penulis: Sany Eka Putri
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved