Bisnis

Polemik Impor Jagung 100.000 Ton, Ini Klarifikasi Mentan Amran

Amran menyebut, impor sampai 100.000 ton jagung itu tetap dalam pengawasan. Tujuannya mengantisipasi jika harga jagung bisa turun ke depannya.

Polemik Impor Jagung 100.000 Ton, Ini Klarifikasi Mentan Amran
surya malang/Hanif Manshuri
Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian RI, Agung Hendriyadi panen raya jagung di Desa Kakatpenjalin Kecamatan Ngimbang, Lamongan. 

SURYAMALANG.COM, JAKARTA - Terkait dengan polemik impor jagung sebanyak 50.000 ton hingga 100.000 ton jagung yang terus memanas, Menteri Pertanian Amran Sulaiman memberikan klarifikasinya. Menurut Amran, impor dilakukan untuk cadangan.

"Bulog yang mengimpor karena peternaknya yang minta," kata Amran di Kantor Kemtan, Selasa (6/11).

Kemtan mengklaim sudah berhasil mengekspor 380.000 ton jagung dan menyetop impor dari Amerika dan Argentina sejumlah 3,6 juta ton. Sehingga total yang berhasil terselamatkan berjumlah sekitar 4 juta ton atau setara Rp 12 triliun.

"Kita sudah menyetop impor, malah ekspor lagi, jadi Rp 12 triliun kita terselamatkan karena jagung. Prestasi enggak Indonesia?" ungkapnya.

Sebelumnya, Indonesia sempat mengimpor jagung sejumlah 3,6 juta ton dengan nilai Rp 10 triliun. Saat ini produksi jagung lokal surplus di angka 8,6 juta ton namun ini serap oleh perusahaan besar yang kemudian tidak mengimpor gandum untuk pakan, sehingga peternak ayam merasa jagung dipasaran harganya tinggi.

Amran menyebut, impor 50.000 sampai 100.000 ton jagung itu tetap dalam pengawasan. Tujuannya mengantisipasi jika harga jagung bisa turun ke depannya.

"Ini kita baru mau impor oleh Bulog. Itu pun pemerintah yang impor, bukan dilepas. Kalau nanti harga di pasar turun, enggak akan dikeluarin. Sebagai alat kontrol aja," tegasnya.

Jumlah impor yang sangat sedikit ini memang seharusnya terserap oleh petani jagung. Namun Amran masih enggan menjelasakan mengapa pemerintah tidak memanfaatkan petani jagung lokal.

"Kecil sekali, saya sih berharap begitu (diambil dari petani jagung lokal), terserap," tandasnya.

Editor: Achmad Amru Muiz
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved