Malang Raya

Kota Batu Bakal Adopsi Sistem Pertanian ala Fukushima Jepang

Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko, mengaku ia sangat terpukau dengan sistem pertanian di Fukushima, Jepang.

Kota Batu Bakal Adopsi Sistem Pertanian ala Fukushima Jepang
SURYAMALANG.COM/Sany Eka Putri
Petani di Kelurahan Sisir, Kota Batu, menyiram sayuran yang akan memasuki masa panen, Kamis (15/11/2018). 

SURYAMALANG.COM, BATU - Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko, mengaku ia sangat terpukau dengan sistem pertanian di Fukushima, Jepang. Bahkan ia berencana untuk mengadopsi sistem pertanian di sana dan diterapkan di Kota Batu. Apalagi bidang pertanian menjadi salah satu fokusnya untuk dikembangkan.

Tampaknya ia masih tak bisa lepas dari kecanggihan teknologi pertanian di Jepang. Ia menjelaskan sebenarnya di Kota Batu dari sektor pariwisata dianggapnya sudah sangat maju. Khususnya infratuktur dan fasilitas umum. Namun meskipun hampir seluruhnya masyarakat kota berjuluk De Kleine Swiszerland ini sebagai petani, ia mengakui masih kesulitan untuk mengembangkan pertanian di Kota Batu.

Oleh karena itu, dari bidang pertanian dan perdagangan, yang merupakan jantungnya perekonomian masyarakat Kota Batu akan dikembangkan. Tidak menutup kemungkinan akan menerapkan sistem yang ada di Jepang.

"Melihat kesuksesan pertanian di Jepang, berhasil berkolaborasi antara pemerintah, pengusaha, petani, pedagang dan BUMD bisa menjadi contoh bagi Kota Batu," kata Dewanti, Kamis (15/11/2018).

Bahkan ketika ini berhasil diterapkan di Kota Batu, akan menjadi kota yang pertama yang menerapkan sistem pertanian dari Jepang di Indonesia. Menurutnya banyak yang bisa diadopsi, karena secara geografis tata letak Kota Batu dengan Fukushima hampir sama. Ia menjelaskan kalau pertanian di Fukushima sangat rapi. Bahkan sampai di pembeli pun dikemas dengan sangat bagus.

"Di sana itu hampir semua menggunakan teknologi. Mulai tanam sampai panen, diawasi terus. Sehingga, hasilnya itu bisa diprediksi sewaktu masa tanam. Ketika panen pun hasil panennya sesuai dengan yang diperkirakan," ungkapnya.

Dewanti mengakui, pertanian di Kota Batu masih belum sejauh itu. Bahkan iapun juga ikut prihatin ketika masa panen raya harga hasil pertanian sangat murah. Dan yang belum diterapkan juga ialah harga. Ia menjelaskan nantinya setiap harga sayur akan diberi harga khusus.

Sehingga saat panen raya pun tidak akan jatuh harganya. "Ya saya pun juga sering kali berbincang dengan petani, kalau panem raya harga sayuran mesti jatuh. Jauh lebih murah. Bagaimana caranya, petani akan memiliki patokan harga. Baik saat panen raya atau tidak, tidak akan turun harganya," ujarnya.

Tak berhenti di situ, pemerintah melalui Diskoperindag dan BUMD juga ikut berpartisipasi dalam prosesnya. Misalnya, setelah pasca panen. Baik apel, sayuran dan bunga semuanya dikelola oleh Diskoperindag dan BUMD.

Untuk Diskoperindag, sebagai perantara, pengawas dan pembina. Sedangkan untuk BUMD, untuk Kota Batu memiliki Batu Wisata Resourch (BWR) yang melakukan penyortiran hingga mengemas sayuran dengan baik.

Halaman
12
Penulis: Sany Eka Putri
Editor: eko darmoko
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved