Malang Raya

Kholiq Susanto Berbagi Kisah Tentang Suka Duka Beternak Ayam Hias di Kota Batu

Memulai bisnis menjadi peternak ayam di Kota Batu tidaklah mudah bagi Kholiq Susanto (33). Warga Desa Sumberejo, Kecamatan Batu

Kholiq Susanto Berbagi Kisah Tentang Suka Duka Beternak Ayam Hias di Kota Batu
SURYAMALANG.COM/Sany Eka Putri
Kholiq Susanto bersama ayam hias di kandang miliknya di Kota Batu, Minggu (18/11/2018). 

SURYAMALANG.COM, BATU - Memulai bisnis menjadi peternak ayam di Kota Batu tidaklah mudah bagi Kholiq Susanto (33). Warga Desa Sumberejo, Kecamatan Batu itu memulai menjadi peternak tahun 2008.

Ia beternak ayam hias impor dari berbagai negara. Ditemui di kediamannya sembari ditemani ayam koleksinya, ia bercerita tentang awal mula ternak ayam hias.

Kholiq yang memiliki nama beken Johar untuk berjualan ayam hiasnya itu, sudah suka koleksi burung sejak remaja. Tepatnya tahun 2005, ia justru memiliki koleksi burung impor. Tetapi ia justru rugi banyak, karena burungnya banyak yang dicuri.

Sampai suatu ketika ia beralih menjadi peternak ayam, karena saran ayah angkatnya yang juga peternak sukses di Australia, Hari Gegmuller. Johar diberi telur ayam sebanyak 300 butir tahun 2008, yang ia rawat sampai menetas dan siap di ternak.

"Dari 300 butir telur ayam itu jenisnya Pekin, Belgian, dan Aseel. Tiga jenis itu pertama saya ternak," kata dia kepada SURYAMALANG.COM, Minggu (18/11/2018).

Tetapi awal-awal ia memulai menjadi peternak ayam hias, tak semulus dugaannya. Selama tiga tahun pertama ia ditipu oleh rekannya yang membantunya memasarkan. Johar enggan bercerita banyak tentang hal itu, karena itu ia anggap sebagai proses awal ia belajar berbisnis sekaligus menjadi peternak.

Sejak saat itu ia mulai belajar tentang pemasaran ternak ayam hias. Ia mulai berjalan sendiri, sampai pada akhirnya ia mendapatkan beberapa komplain pembeli yang merasa tidak sesuai dengan ayamnya.

"Pas saya mulai jalan sendiri itu, ternyata banyak yang membeli ayam hias saya itu komplain. Ada yang tidak sesuai usia ayamnya, dan harganya juga. Semisal seharusnya ayam yang dijual itu 2 bulan, tetapi masih satu bulan," ungkapnya.

Ia pun bertanggungjawab dan mengganti semua kerugian pembeli. Perlahan-lahan ia mulai bisa menata bisnisnya yang ia jalani karena hobi itu. Setidaknya saat ini ia memiliki sekitar 200 ekor lebih ayam hias impor. Jenisnya seperti Pekin dari Australia yang ia jual sekitar Rp 4 juta.

Lalu ada jenis Belgian dari Australia yang ia jual sekitar Rp 500 ribu. Selanjutnya ada jenis Aseel dari Australia juga yang masih baru di Indonesia. Ayam jenis ini masih dinilai mahal satu ekor saja bisa mencapai Rp 35 juta. Ada jenis Indian Game dari Australia, jenis Orpynton, Aseel Parrot dari India, jenis LHK dari Thailand, Merak.

Halaman
12
Penulis: Sany Eka Putri
Editor: eko darmoko
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved