Citizen Reporter

Festival Panawijen Djaman Bijen di Kota Malang Hebohkan Pengunjung

Jejak dan sejarah tentang Polowijen atau Panawijen yang tidak lain adalah Panawidyan telah diulang kembali oleh Kampung Budaya Polowijen (KBP).

Festival Panawijen Djaman Bijen di Kota Malang Hebohkan Pengunjung
adi h
Jejak dan sejarah tentang Polowijen atau Panawijen yang tidak lain adalah Panawidyan telah diulang kembali oleh Kampung Budaya Polowijen (KBP), Kecamatan Blimbing, Kota Malang. 

SURYAMALANG.COM - Jejak dan sejarah tentang Polowijen atau Panawijen yang tidak lain adalah Panawidyan telah diulang kembali oleh Kampung Budaya Polowijen (KBP), Kecamatan Blimbing, Kota Malang.

Kurang lebih 1,5 tahun yang lalu warga Polowijen aktif mengembangkan tradisi lama dan budaya setempat yang menjadi penguatan ikon budaya lokal di Kota Malang itu.

Sebagaimana kalender wisata kota Malang 2018, pada Minggu (25/11/2018) KBP menggelar Festival Panawijen Djaman Bijen untuk merayakan kegiatan seni dan budaya sebagai bentuk peringatan hari jadi Polowijen. Pada acara itu dimarakkan dengan berbagai penampilan antara lain, tari Topeng Malang, kriya Topeng Malang, kriya Batik Malang, tembang Mocopat Jowo, permainan mradisional, musik dolanan, dan jajanan djaman bijen.

Penggagas KBP, Ki Demang, mengatakan, kota Malang dalam perkembangannya menjadi kota metropolitan yang tentunya berimplikasi pada pergeseran sosial budaya. Di lain sisi, makanan atau jajanan tradisional yang sarat dengan makna dan kearifan lokal dikhawatirkan makin ditinggalkan masyarakat. Karena itu, kata Ki Demang, momentum tepat untuk “mengenalkan” kembali makanan atau jajanan yang menjadi ciri khas Malangan atau Jawa umumnya. 

“Makanan atau jajanan di KBP diantaranya ada gatot, bledos, polo pendhem, cenil, tiwul, gaplek, gethuk, dan masih banyak lagi,” kata Ki Demang di sela-sela Festival Panawijen Djaman Bijen di Polowijen, Kec. Blimbing, kota Malang.

Salah satu warga Polowijen, Mak Bakiyah (60 tahun) yang sudah puluhan tahun berjualan jajanan tradisional ini mengatakan, KBP sebagai salah satu kampung yang melestarikan tradisi dan kuliner jaman biyen. Meskipun diakui dia, saat ini sudah jarang ditemui.

“Meski jarang ditemui, namun jajanan tersebut masih digemari oleh kalangan masyarakat tertentu. Jajajan tradisional perlu diperkenalkan kepada generasi muda,” kata Mak Bakiyah yang turut berpartisipasi dalam perhelatan itu.

Ratusan pengunjung dari berbagai latar belakang, termasuk para mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang memadati acara tersebut tampak menikmati sensasi masakan/jajanan tradisional yang disediakan panitia. Mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Lia Yuanita berpesan agar generasi milenial harus mengenal dan melestarikan makanan/jajanan tradisional yang menjadi kekhasan tiap daerah.

Jejak dan sejarah tentang Polowijen atau Panawijen yang tidak lain adalah Panawidyan telah diulang kembali oleh Kampung Budaya Polowijen (KBP), Kecamatan Blimbing, Kota Malang.
Jejak dan sejarah tentang Polowijen atau Panawijen yang tidak lain adalah Panawidyan telah diulang kembali oleh Kampung Budaya Polowijen (KBP), Kecamatan Blimbing, Kota Malang. (adi h)

“Makanan/jajanan tradisional merupakan local wisdom yang sudah semestinya dilanggengkan oleh para kaum milenial. Siapa lagi kalau bukan kita,” ujarnya.

Pengakuan mahasiswa UPI Bandung, Siti Haniah yang berkunjung ke KBP bersama rombongan begitu terkesan dengan komitmen KBP yang merawat seni tradisi dan budaya lokal Malang.

Halaman
12
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved