Kabar Jakarta

Pekan Pertama Tahun 2019, Nilai Tukar Rupiah Menguat Rp 14.270 Per Dollar AS

Penguatan rupiah terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap melemahnya ekonomi global dan optimisme kemajuan negosiasi sengketa dagang China dan AS

Pekan Pertama Tahun 2019, Nilai Tukar Rupiah Menguat Rp 14.270 Per Dollar AS
Tribunnews.com
Nilai tukar Rupiah menguat 

SURYAMALANG.COM, JAKARTA -  Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pekan pertama tahun 2019 menguat tajam. Kurs rupiah di pasar spot, Jumat (4/1/2019), ditutup menguat 1,02 persen ke Rp 14.270 per dollar AS. Sementara dalam sepekan, rupiah spot menguat 2,04 persen. Penguatan juga dialami kurs tengah rupiah Bank Indonesia (BI) sebesar 0,85 persen ke Rp 14.350 per dollar AS.

Penguatan rupiah terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap melemahnya ekonomi global dan optimisme kemajuan negosiasi sengketa dagang antara Amerika Serikat dan China. “Sukses lelang SBN (surat utang negara) 4 Januari 2018 juga menjadi katalis penguatan rupiah,” kata Kepala Departeman Pengelolaan Moneter Bank Indonesia kepada kontan.co.id. kemarin. (4/1).

Menurut Nanang, BI terus mengawal performa rupiah di tengah sentimen global yang cenderung mix yakni dengan memperkuat kepercayaan pasar terhadap mata uang Garuda.

Langkah penguatan Rupiah oleh bank sentral ditempuh dengan membuka lelang domestic non delivery  forward  (DNDF) pada  pukul 8.30 selama 15 menit, yang kemudian dilanjutkan dengan direct intervention dengan menempatkan offer price DNDF di  depalan broker sepanjang sesi perdagangan dalam jumlah yang signifikan.  

“Kami memanfaatkan momentum dan timing yang pas dengan melakukan intervensi di pasar spot dengan jumlah yang sangat terukur,” ujar Nanang.

Selain itu, BI mengaku  akan terus mewaspadai karena kondisi pasar keuangan global masih diliputi ketidakpastian. Hal ini terutama terkait memburuknya data ekonomi khususnya data manufaktur di berbagai negara termasuk di AS, China, Prancis, Jerman, dan Spanyol. 

Melemahnya kegiatan manufaktur di berbagai negara tersebut merupakan dampak negatif dari melemahnya kegiatan perdagangan antar negara. Lumpuhnya sebagian dari kegiatan pemerintahan di AS atau partial government shutdown bila berkepanjangan juga akan berdampak terhadap kegiatan konsumsi di AS.  

Kondisi ini masih ditambah dengan wealth effect akibat kemerosotan harga saham di AS yang berkelanjutan akan menyebabkam konsumsi tertekan karena besarnya kapitalisasi nilai saham terhadap PDB di Amerika Serikat.

Mengacu indikator di pasar uang AS seperti Fed Fund Future dan Overnight Indec Swap (OIS) memberikan indikasi the Fed tidak akan menaikkan suku bunga kebijakan (Fed Fund Rate) di tahun 2019. Ekspektasi pasar ini membuat yield US Ttrasury Bond kembali merosot ke 2,55 persen dan Index Dolar (DXY) melemah ke 96,17

Di tengah merosotnya harga saham di AS, dollar tidak lagi menjadi safe haven currency dan kini tergantikan dengan Yen Jepang. Berbagai sentimen eksternal itu pula yang membuat otot rupiah kembali perkasa dalam perdagangan Jumat kemarin.

Editor: Achmad Amru Muiz
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved