Kabar Magetan

Dinkes Magetan Akui Terlambat Tangani Bocah Merayap

Dinda Putri Aorilia ini anak bungsu dari dua bersaudara dari pasangan Sutopo dan Aminah, sedang Kakaknya Siswanto buruh pabrik pakaian dalam.

Dinkes Magetan Akui Terlambat Tangani Bocah Merayap
doni prasetyo
Kepala Bidang Sumberdaya Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan Heroe Widhiatmoko. 

SURYAMALANG.COM, MAGETAN - Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan mengakui terlambat menangani Dinda Putri Aprilia (7) gadis cilik yang mengalami kelumpuhan sejak usia empat bulan.

Anak warga Desa Bogorejo Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan itu dilaporkan sebagai anak disabilitas.

"Kami baru tahu ada bocah perempuan mengalami.kelumpuhan sejak usia delapan bulan itu. Mestinya kondisi itu dilaporkan apa adanya, tidak ditutupi,"kata Kepala Bidang Sumberdaya Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan Heroe Widhiatmoko saat dikonformasi Harian SuryaMalang.com, di kantornya, Senin (14/1/2019).

Dinda Putri Aorilia ini anak bungsu dari dua bersaudara dari pasangan Sutopo dan Aminah, sedang kakaknya Siswanto buruh pabrik pakaian dalam, ini sebagai tulung punggung, apalagi setelah Sutopo, bapaknya , empat tahun lalu meninggal dunia.

Ibunya yang awalnya bisa bekerja untuk memberi nafkah keluarganya, meski hanya sebagai buruh tani, kini juga terkana diabetes dan jantung koroner. Sementara upah Siswanto sebagai buruh pabrik garmen, tidak bisa lagi mencukupi kebutuhanny.

Dikatakan Heroe, pejabat Dinkes yang paling bertanggungjawab adalah bidang kesehatan desa yaitu BidaN Desa (Bides). Mestinya Bides ini harus tahu siapa siapa yang harus mendapat prioritas layangan kesehatan.

"Karena itu pihak Dinkes juga belum.tahu persis, bagaimana penyakitnya anak Yatim itu. Kalau dilihat dari fisik. Dinda tidak menderita penyakit serius atau bukan sakti. Makanya dia dianggap disabilitas oleh teman teman Bides," jelas Heroe.

Dinkes Magetan akan memanggil pelapor itu dan menanggapi dengan serius, antara lintas sektor yang pertana terkait penjaminan kesehatan dan penanggungjawab desa, seharusnya melakukan pendataan warga miskin, agar desa membuat kartu tidak mampu/miskin.

"Kartu tidak mampu dari desa itu kemudian diproses menjadi BPJS, sehingga Dinda Putri Aprilia, tidak sampai lumpuh, karena ditangani RSUD dr Sayidiman," kata Heroe.

Menurut Aminah, Ibu Dinda, keinginan Dinda Putti Aprilia sangat sederhana, dia pingin punya kursi roda, dan bersekolah seperti teman teman sebayanya di kampung. Untuk kebutuhan sehari hari, Aminah dan Dinda, selain menggantungkan hidup kepada Siswanto, Kakak Dinda anak pertama pasangan Sutopo dan Aminah itu, mereka juga dibantu tetangga kanan kiri.

"Saya hanya pingin Dinda punya kursi roda, dan bisa sekolah. Syukur syukur ada dermawan yang mendengar dan tergerak hatinya menyantuni Dinda," kata Aminah sambil batuk batuk.

Penulis: Doni Prasetyo
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved