Arema Malang

Petinggi Arema FC Berpotensi Tersangka Kasus Suap, Begini Reaksi Manajemen

Ketua Staf Umum PSSI berinisial IB yang diduga kuat merupakan CEO Arema FC, berpotensi menyandang status tersangka.

Petinggi Arema FC Berpotensi Tersangka Kasus Suap, Begini Reaksi Manajemen
pixabay
ILUSTRASI 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Ketua Staf Umum PSSI berinisial IB yang diduga kuat merupakan CEO Arema FC, berpotensi menyandang status tersangka.

Status IB yang semula terlapor akan segera ditingkatkan, menjadi tersangka setelah diduga terlibat suap penunjukan tuan rumah di Piala Soeratin 2009, yang dilaporkan oleh Manajer Perseba Bangkalan, Imron Abdul Fattah.

Terkait hal ini, manajemen Arema FC yang diwakili Sudarmaji Media Officer Arema FC pada SuryaMalang.com mengatakan, apabila memang kasus tersebut tengah menjerat petinggi klubnya, manajemen Arema FC menyakini jika IB akan dapat berlaku proaktif dan mematuhi segala prosedur yang menjadi ketetapan penyidik.

"Jika memang polisi maksudnya mengarah kepada pimpinan kami yang kapasitasnya sebagai pengurus PSSI tentu kami meyakini bahwa pimpinan kami taat kepada prosedur hukum," kata Sudarmaji pada Surya, Rabu (16/1/2019) petang.

Tak hanya meyakini jika IB akan taat pada hukum yang berlaku, mantan wartawan itu juga percaya jika IB akan datang apabila diminta untuk memberikan keterangan soal kasus ini.

"Kami juga yakini bahwa beliau akan memenuhi jika dimintai keterangan," jelasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, kasus ini bermula pada Oktober 2009 silam, saat akan dilaksanakan pertandingan Delapan Besar Liga Remaja (Piala Suratin) Seri Nasional korban Imron selaku Manager Perseba Bangkalan mengajukan permohonan menjadi tuan rumah Piala Suratin kepada PSSI melalui Badan Liga Amatir Indonesia (BLAI) yang saat itu dikepalai oleh IB.

Selanjutnya korban bertemu dengan saudara HS selaku Ketua Pengda PSSI Jawa Timur di Surabaya dan pada saat itu saudara HS meminta sejumlah uang sebesar Rp 140 juta sebagai syarat untuk meloloskan Perseba menjadi tuan rumah pertandingan.

Demi memenuhi syarat tersebut Imron akhirnya mentransfer uang sebanyak tiga kali dengan total Rp 115 juta pada 5 Oktober 2009, sebesar Rp 40 juta 13 Oktober 2009 sebesar Rp 25 juta dan 6 Nopember sebesar Rp 50 juta, lalu pada Nopember 2009, saat Imron berada di Jakarta dihubungi oleh IB.

Dirinya meminta kepada korban uang sebesar Rp 25 juta sebagai tambahan uang untuk persetujuan pelaksanaan pertandingan Delapan Besar Piala Suratin 2009 yang akan dilaksanakan di Bangkalan.

Namun nyatanya pada Desember 2009, korban mengetahui bahwa untuk menjadi tuan rumah pertandingan Delapan Besar Piala Suratin tidak ada ketentuan untuk melakukan pembayaran.

Penulis: Dya Ayu
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved