Malang Raya

Reaksi Wali Kota Malang Sutiaji soal Perempuan dari Malang Tertahan di Yordania

Wali Kota Malang Sutiaji mengaku belum memantau detail warganya yang bekerja sebagai buruh migran dan tertahan di shelter KBRI Jordania di Amman.

Reaksi Wali Kota Malang Sutiaji soal Perempuan dari Malang Tertahan di Yordania
Benni Indo
Wali Kota Malang Sutiaji menegaskan bahwa tidak boleh ada sekolah yang mengeluarkan siswanya di Kota Malang. Jika terdapat persoalan pada siswa, maka menjadi tanggungjawab sekolah untuk menyelesaikannya. 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN – Wali Kota Malang Sutiaji mengaku belum memantau detail warganya yang bekerja sebagai buruh migran dan tertahan di shelter KBRI Yordania di Amman.

Namun, ia mengaku ingin mengupayakan agar perempuan berinisial DA itu bisa segera dibawa pulang ke Kota Malang.

“Saya belum pantau. Kami akan inventarisir dan cek itu orang mana. Kok sampai dia bekerja di Yordania? Kemudian, kami ingin ketahui kronologinya sehingga bisa mengurai jawaban,” ujar Sutiaji, Jumat (8/2/2019).

Sutiaji juga baru mengetahui bahwa ternyata DA berangkat ke Yordania melalui jalur ilegal. Hal itu, menurut Sutiaji menjadi kendala tersendiri dalam upaya memulangkan DA.

“Untuk mengupayakan pulang, harusnya bisa. Kalau benar, kami akan meminta kepada pak Sekda untuk berkoordinasi dengan Kementrian Ketenagakerjaan, kemudian yang kedua dengan Kemenlu,” papar Sutiaji.

Dijelaskan Sutiaji, tahapan yang akan ditempuh nantinya adalah berkoordinasi dengan Pemprov Jawa Timur. Setelah itu, disampaikan ke pemerintah pusat.

“Kalau tenaga kerja tapi dia ilegal, tapi karena ini WNI, maka kami akan lakukan itu bersama provinsi dan Kementerian Luar Negeri,” terangnya.

Sutiaji juga meminta kepada masyarakat agar memiliki keberanian melapor ke petugas jika menemukan adanya tempat penyaluran tenaga kerja ilegal.

Diberitakan sebelumnya, seorang warga Kota Malang berinisial DA dilaporkan sedang berada di shelter KBRI Yordania di Kota Amman. DA dialporkan menjadi korban perdagangan manusia.

Kepala P4TKI Malang Muhammad Iqbal menjelaskan, DA sudah bekerja sebagai pekerja rumah tangga di Yordania selama 12 tahun.

"Selama 12 tahun dia tidak mendapatkan gaji. Mandi pun dibatasi. Sebulan sekali," kata Iqbal, Kamis (7/2/2019).

Pemerintah Indonesia tengah mengupayakan agar hak-hak DA ketika kerja di Yordania selama 12 tahun dipenuhi. Iqbal pun belum bisa memastikan kapan DA bisa dipupangkan. Dikatakan Iqbal, Yordania bukanlah negara tujuan pengiriman tenaga kerja dari Indonesia.

Berdasarkan informasi yang disampaikan Iqbal, Kota Malang merupakan salah satu kantong calo penyaluran tenaga kerja luar negeri ilegal. Kota Malang juga menjadi kantong bagi pekerja yang berangkat ke Timur-Tengah.

"Saat ini negara-negara di Timur Tengah sedang menutup penerimaan pekerja dari Indonesia. Tapi faktanya ada yang bisa mengirimkan ke sana. Di sini juga potensi calo," jelasnya.

Penulis: Benni Indo
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved