Kabar Pamekasan

Sujiwo Tejo ke Pamekasan, Sindir Perang Hashtag di Twitter soal Pilpres, Penonton Terbahak-bahak

UKM Teater Fataria IAIN Madura mendatangkan dua pembicara kondang: seniman Sujiwo Tejo dan penyair Celurit Emas, D Zawawi Imron.

Sujiwo Tejo ke Pamekasan, Sindir Perang Hashtag di Twitter soal Pilpres, Penonton Terbahak-bahak
Kuswanto Ferdian - SuryaMalang.com
Sujiwo Tejo saat berekspres menyanyikan lagu Ghei Bintang dalam bahasa Madura di acara talkshow kebudayaan yang digelar oleh UKM Teater Fataria IAIN Madura, Kabupaten Pamekasan, Sabtu (23/2/2019) malam. 

Reportase Kuswanto Ferdian, Pamekasan

SURYAMALANG.COM, PAMEKASAN - UKM Teater Fataria IAIN Madura mendatangkan dua pembicara kondang: seniman Sujiwo Tejo dan penyair Celurit Emas, D Zawawi Imron, Sabtu (23/2/2019) malam.

Kedua pemateri menyampaikan persoalan kebudayaan lokal dan nusantara serta memmotivasi untuk tidak terjerumus mengenai persoalan Pilpres 2019.

Sujiwo Tejo, misalnya,menyindir soal perang hashtag di twitter berkenaan dengan Pilpres 2019.

"Lihat mereka yang perang hashtag di Twitter mereka adalah contoh orang-orang yang lupa akan dirinya, dari mana asalnya dan ke mana nanti mereka akan kembali. Kalau saya lebih baik menjadi anak kecil yang abadi," ujar Sujiwo Tejo.

Menurut Tejo, menjadi anak kecil yang abadi akan membuat manusia menjadi tenang tanpa ada yang saling membenci dan memperdebatkan persoalan pilpers.

"Bagi saya lebih enak jadi anak kecil yang abadi. Loh iya kenapa harus begitu? Karena menjadi anak kecil, ketika hari ini kita bertengkar dengan teman kita, esoknya pasti kita akur lagi dan bermain lagi. Teman kita secara tidak langsung sudah memaafkan," terang Tejo.

"Lah coba sekarang kita pikir, kalau mereka yang berdebat di twitter, perang soal hashtag, saya jadi curiga, apakah mereka akan bisa saling memaafkan setelah pilpres selesai?" ucap Tejo.

Mendengar perkataan tersebut, sontak ribuan penonton terbahak-bahak sembari bertepuk tangan.

Tak hanya itu, Sujiwo Tejo juga menyanyikan lagu-lagunya dalam bahasa Madura.

"Kalian harus mengerti kenapa saya menyanyikan lagu anak kecil ini untuk kalian. Supaya kalian sadar, kita harus tetap melestarikan kebudayaan lokal dan nusantara. Lihat, saya mengaransemennya sendiri, saya bawa lagu itu dengan nada lebih milenial. Namun tidak menghilangkan intisarinya. Buktinya kalian menikmati kan? Harusnya seniman itu ya begitu. Kemas kebudayaan itu secara menarik, tujuannya agar tetap terlestarikan," jelas Tejo. 

Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved