Kabar Tulungagung

Merasa Kesulitan, Dinkes Tulungagung Pinjam ULV Pemprov Jatim Untuk Membasmi Nyamuk DBD

Alat ini menyemburkan insektisida berupa kabut tipis, dan mampu menjangkau 50 meter. Karena jangkauannya yang luas, ULV dibawa dengan mobil pikap.

Merasa Kesulitan, Dinkes Tulungagung Pinjam ULV Pemprov Jatim Untuk Membasmi Nyamuk DBD
suryamalang.com/David Yohanes
Mesin ULV tengah menyemprotkan insektisida di sepanjang jalan Desa Campurdarat Kecamatan Campurdarat, yang menjadi salah satu desa dengan penularan DBD yang tinggi di Tulungagung. 

SURYAMALANG.COM, TULUNGAGUNG - Hingga 4 maret 2019, jumlah pasien demam berdarah dengue (DBD) di Tulungagung sebanyak 464 orang. Dinas kesehatan (Dinkes) kewalahan untuk melakukan pengasapan (fogging) dengan mesin lama.

Mesin itu dinilai mempunyai kemampuan yang terbatas sehingga kurang maksimal membasmi nyamuk. Karena itu, Dinkes Tulungagung meminjam alat penyemprot yang lebih canggih dari Dinkes Provinsi Jawa Timur. Nama alat itu adalah ultra low volume (ULV).

Alat ini menyemburkan insektisida berupa kabut tipis, dan mampu menjangkau 50 meter. Karena jangkauannya yang luas, ULV dibawa dengan mobil pikap. Sepanjang perjalanan di wilayah endemi nyamuk aedes aegypti, ULV terus menyemprotkan kabut insektisida.

Wilayah yang disemprot pada Senin (4/3/2019) adalah Desa Campurdarat Kecamatan Campurdarat Kabupaten Tulungagung. Desa ini dipilih karena ada 6 kasus DBD, satu di antaranya meninggal dunia.

“Harga alatnya mencapai Rp 500 juta. Kami tidak punya, makanya pinjam ke Dinkes Provinsi,” kata Kasi P2M Dinkes Tulungagung, Didik Eka.

Selain menjangkau lebih luas, alat ini juga lebih efektif dan lebih murah. Sebagai gambaran, alat fogging biasa butuh Rp 1.500.000 untuk radius 200 meter. Sementara untuk menjangkau seluruh Desa Campurdarat, ULV membutuhkan biaya Rp 2.000.000.

“Kami tinggal menambah Rp 500.000 dari anggaran yang ada, seluruh desa sudah terjangkau. Kalau dihitung jauh lebih murah,” ungkap Didik.

Rencananya Dinkes Tulungagung akan meminjam ULV ini untuk satu bulan ke depan. Salah satu pertimbangannya, angka DBD Tulungagung sangat tinggi. Bahkan angka penularannya nomor dua di Jawa Timur.

Pada bulan Januari lalu, ada 257 pasien, tiga di antaranya meninggal dunia. Bulan Februari menurun menjadi 222 pasien, namun jumlah kematian meningkat enam orang. Sayangnya, meski dinilai efektif, masyarakat justru tidak puas dengan ULV.

“Masyarakat kita sudah terbiasa dengan mesin fogging yang mengelaurkan asap tebal. Sementara ULV ini tidak mengeluarkan asap seperti itu,” ujar Didik.

ULV memang menggunakan metode pengasapan dingin. Masyarakat beranggapan, cara ini tida efektif membunuh nyamuk. Padahal ULV jauh lebih efektif membasmi nyamuk.

Berbeda dengan fogging yang pintu rumah harus ditutup setelah diasapi. Saat ULV pintu dan jendela rumah harus dibuka, agar insektisida bisa menjangkau ke dalam rumah.

“Untuk ULV menggunakan Cypermetrin 100 EC, sedang pada fogging sistem panas menggunakan cypermetrin 25 EC,” pungkas Didik.

Plt Bupati Tulungagung, Maryoto Birowo mengatakan, Tulungagung butuh ULV seperti milik Dinkes Provinsi. Pengadaan ULV dianggap vital, agar pemberantasan nyamuk bisa lebih efektif. Selain pengasapan, Pemkab Tulungagung juga memberikan larvasida ke setiap kecamatan.

“Angka bebas jentik kita masih 88,6 persen, dari target nasional 95 persen. Makanya kita galakkan pemberian larvasida,” tuturnya. 

Penulis: David Yohanes
Editor: Achmad Amru Muiz
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved