Kabar Pasuruan

Festival Dolanan Tradisional Digelar Masjid Cheng Ho Pasuruan, Upaya Lestarikan Budaya Bangsa

Tujuan diadakannya acara itu untuk mensosialisasikan permainan tradisional asli Indonesia yang selama ini sudah ditinggalkan bahkan dilupakan.

Festival Dolanan Tradisional Digelar Masjid Cheng Ho Pasuruan, Upaya Lestarikan Budaya Bangsa
suryamalang.com/Galih Lintartika
Bermain klompen salah satu permainan tradisional yang dilomkabak dalam festival dolanan tradisional di Pasuruan 

SURYAMALANG.COM, PASURUAN - Di perkembangan zaman modern sekarang, Pasuruan menjadi salah satu kabupaten yang tetap melestarikan permainan tradisional anak zaman dulu. Sekarang, permainan tradisional ini mulai jarang ditemui.

Untuk melestarikan itu, Pasuruan melalui sejumlah anak - anak muda milenial menyelenggarakan Festival Dolanan Tradisional Indonesia di Masjid Cheng Hoo, Kecamatan Pandaan.

Kegiatan ini berlangsung sejak 9 - 11 Maret mendatang. "Tujuan diadakannya acara ini adalah untuk mensosialisasikan permainan tradisional asli Indonesia yang selama ini sudah ditinggalkan bahkan dilupakan," kata Mustaghfirin, Ketua Panita acara tersebut.

Firin, sapaan akrabnya menjelaskan, olahraga tradisional (oltrad) saat ni mulai dibangkitkan kembali dengan perlombaan di beberapa daerah di Indonesia. Ia berharap masyarakat Pasuruan bisa lebih mencintai oltrad, apalagi ada generasi muda yang berprestasi di olah raga permainan ini.

Meskipun bagi anak milenial terkesan awam, antusiasme tergambar saat mereka masyarakat sekitar dan pengunjung Pasar Wisata Chenghoo, mencoba permain tradisional tersebut.

"Awalnya anak-anak yang melihat permainan tradisional ini merasa sulit. Tapi setelah mencoba, ternyata mudah dan mereka keasyikan bermain," jelasnya

Ada beberapa permainan yang dilombakan dalam festival ini, mulai egrang, terompah, holahop, balap karung, tarik tambang dan dakonan.

"Terlebih sekarang ini, jam pelajaran siswa sangat padat. Agar mereka tetep fokus dalam studi, badan mereka harus sehat. Ya salah satunya dengan mempopulerkan kembali permainan tradisional ini, agar fisiknya anak sering bergerak dan badannya sehat," tegas ketua panitia.

Selain itu, permainan tradisional dinilai mampu meningkatkan kepekaan sosial anak, dan menjauhkan dari sifat individual.

"Harapan kami, pemakaian gawai (smartphone) untuk bermain oleh anak ini semakin dikurangi. Agar fisik mereka terus bergerak," paparnya.

Disatu sisi, Aldo Zawar, siswa kelas II SD mengaku, dirinya senang bermaian permaianan tradisional meskipun agak susah.

"Setiap hari main Play Station, kalau permainan tradisional itu tekongan (petak umpet, tapi jarang," ujar Aldo dengan senyum. 

Penulis: Galih Lintartika
Editor: Achmad Amru Muiz
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved