Teroris Pembantai 49 Muslim di Selandia Baru Merasa Berhak Dapat Nobel Perdamaian

Teroris menyamakan dirinya dengan pejuang apartheid, mendiang Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela, dan merasa berhak dapat Nobel Perdamaian.

Teroris Pembantai 49 Muslim di Selandia Baru Merasa Berhak Dapat Nobel Perdamaian
web
Brenton Tarrant, teroris 28 tahun asal Australia yang membantai 49 orang yang sedang salat Jumat di Masjid Al Noor dan Linwood, Christchurch, New Zealand atau Selandia Baru. 

SURYAMALANG.COM - Ekstremisme sering menghasilkan sikap paradoks: bisa berbuat sangat jahat tetapi merasa suci.

Itu juga yang terjadi pada Brenton Tarrant, teroris 28 tahun asal Australia yang membantai 49 orang yang sedang salat Jumat di Masjid Al Noor dan Linwood, Christchurch, New Zealand atau Selandia Baru.

Sebelum menembak mati kaum muslim itu, Brenton Tarrant sempat menulikan sebuah manifesto berjudul The Great Replacement.

Tarrant menuliskan motifnya memutuskan menyerang Masjid Al Noor dan Linwood.

Dalam beberapa poin yang dipublikasikan Sky News, Sabtu (16/3/2019), Tarrant menuliskan bahwa dia tidak berafiliasi dengan kelompok atau pemerintahan tertentu.

Teroris yang berasal dari Grafton, Australia itu juga menyatalan siap mati dalam serangan. Ia sudah merencanakan penembakan itu selama tiga bulan terakhir.

Dia memutuskan menyerang setelah meyakini adanya genosida putih dan sejumlah serangan teror di Eropa yang membuatnya menjadi radikal.

Dalam manifestonya, Tarrant menyatakan aksi itu dia lakukan sebagai wujud membela kulit putih dari "penjajah"

Dalam bagian setebal 17 halaman, Tarrant mewawancarai dirinya sendiri dengan mengungkapkan keyakinannya bahwa dia seorang rasis.

Bahkan, dia menyamakan dirinya dengan pejuang apartheid sekaligus mendiang Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela, dan mengklaim berhak dapat Nobel Perdamaian.

Dia menyatakan merupakan pendukung Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebagai simbol identitas kulit putih yang baru, namun menolak kebijakannya.

Seorang pejabat Turki kepada Sky News menuturkan, Tarrant diyakini pernah menghabiskan waktu di negara yang dipimpin Presiden Recep Tayyip Erdogan itu.

Berdasarkan informasi yang mereka gali, Tarrant diduga beberapa kali pergi ke Turki dan menghabiskan waktu yang cukup lama di sana.

"Saat ini kami menyelidiki pergerakan teroris itu dan kontak yang dibuatnya dengan orang lain selama berada di negara ini," ucap pejabat Turki tersebut. kompas.com

GOOGLE STREET VIEW - Masjid Al Noor, 101 Deans Ave, Riccarton, Christchurch 8011, New Zealand

Masjid Al Noor, 101 Deans Ave, Riccarton, Christchurch 8011, New Zealand.
google
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved