Universitas Kanjuruhan Malang

Rektor Unikama Jelaskan Status Parjito, Dosen Terpidana Korupsi Dana Hibah Rp 2 Miliar

Rektor Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama) Dr Pieter Sahertian mengatakan turut prihatin pada eksekusi humuman badan oleh jaksa untuk dosennya.

Rektor Unikama Jelaskan Status Parjito, Dosen Terpidana Korupsi Dana Hibah Rp 2 Miliar
Benni Indo
Rektor Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama) Dr Pieter Sahertian 

SURYAMALANG.COM, SUKUN – Rektor Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama) Dr Pieter Sahertian mengatakan turut prihatin pada eksekusi pidana oleh jaksa untuk dosen bernama Drs Parjito.

Ia menjelaskan, perkara yang menimpa Parjito adalah kasus lama sebelum dirinya menjadi rektor.

“Yaitu terkait dengan salah satu dosen kami yang akhirnya menerima vonis dari MA. Itu sebenarnya kasus lama. Saya sendiri berpikir sudah selesai,” ujar Pieter, Jumat (22/3/2019).

Dijelaskan Pieter, kasus ini dinilainya sudah SP3. Namun kemudian di tengah perjalanan, kasus ini dibuka kembali. Ada pihak yang mengajukan peninjauan kembali atau (PK).

“Rektornya yang dulu juga sudah selesai, SP3. Dalam persoalan ini saya tidak mau menyinggung lagi pimpinan lama. Saya pikir selesai. Tiba-tiba muncul putusan kasasi,” ungkapnya. Lebih tinggi tingkat pertama maupun banding. Saya tidak tahu yang bandin siapa yang kasasi siapa.

Di sisi lain, Pieter menjelaskan kalau Parjito statusnya adalah seorang aparatur sipil negara (ASN). Dikatakan Pieter, Parjito sudah mengajukan pensiun dini ke kampus sejak Januari lalu.

“Tapi karena beliau ASN, kami berusaha bagaimana beliau mengajukan proses pensiun dini. Makannya kami proses agar yang bersangkutan mendapatkan haknya,” katanya.

Dijelaskan Pieter, Parjito mengajar di Jurusan Pendidikan Geografi. Parjito sudah mengabdi di Unikama selama sekitar 28 tahun. Saat ini usianya juga sudah lebih dari 50 tahun.

“Sesuai peraturan, kalau sudah mengabdi 20 tahun lebih dan usianya di atas 50 tahun bisa mengajukan pensiun dini. Itu memang syaratnya,” terangnya.

Kejari Kota Malang, menangkap Parjito pada Selasa, 19 Maret 2019. Penangkapan ini terkait kasus penyelewengan dana hibah dari Kemendikbud pada tahun 2008.

Dana hibah tersebut sebesar Rp 3 miliar lebih, yang dialokasikan untuk proyek fisik maupun pengelolaan sumber daya manusia (SDM). Kepala Kejari Kota Malang Amran Lakoni menjelaskan, kasus ini merupakan perkara lama dan Parjito divonis dua tahun penjara.

Kemudian pada tingkat banding, menguatkan putusan pengadilan, dan ditambah lagi pada tingkat kasasi, diputuskan hukuman selama lima tahun.

"Makanya kami jemput karena sesuai putusan Mahkamah Agung (MA). Yang bersangkutan ditangkap di rumahnya di kawasan Tidar," jelasnya.

Dilanjutkan Kajari, selama ini, pihaknya sudah berupaya melakukan penangkapan terhadap Parjito. Namun upaya tersebut kandas karena dia selalu berpindah-pindah tempat tinggal.

Dari perhitungan kegiatan yang dianggarkan, total kerugian negara mencapai Rp 2 miliar. 

Penulis: Benni Indo
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved