Kabar Surabaya

Tim Mobil Irit ITS Surabaya Ingin Rajai Asia, Pesaing Terdekat Buatan Vietnam

Tim dari Vietnam menjadi kompetitor terberat yang dirasakan oleh tim ITS untuk ajang internasional Shell Eco Marathon Asia 2019.

Tim Mobil Irit ITS Surabaya Ingin Rajai Asia, Pesaing Terdekat Buatan Vietnam
its.ac.id
Mobil hemat energi ITS Surabaya. 

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Tim dari Vietnam menjadi kompetitor terberat yang dirasakan oleh tim ITS untuk ajang internasional Shell Eco Marathon Asia 2019.

Berbagai persiapan dilakukan tiga tim mobil hemat energy Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya untuk mengikuti ajang tersebut.

Terlebih bila sebelumnya ITS hanya bisa mendaoat jatah mengirim dua tim, di tahun 2019 ini kesempatan diikuti tiga tim.

"Ini berkat keberhasilan Tim Sapuangin yang menjuarai kompetisi internasioanal Drivers’ World Championship Competition 2018 di London, sehingga tahun ini ITS mendapatkan kesempatan menurunkan tiga tim untuk pertama kalinya," kata Rektor ITS periode 2019-2024 Prof Mochamad Ashari, Jumat (22/3/2019).

Sementara itu masing-masing tim menuturkan persiapan mengikuti ajang bergengsi internasional tersebut.

General Manager (GM) Tim Nogogeni Ahmad Ibad Maulana mengatakan mereka selalu mengikuti perubahan regulasi dari segi teknis maupun nonteknis meminimalisir hal yang dirasa dapat menghambat proses kompetisi.

"Kompetitor terberat kami dari Vietnam. Mereka memegang rekor," kata Mahasiswa Teknik Mesin Industri ITS.

Sementata Manager Nonteknis Tim Sapuangin Vito Hanif Addinuri mengatakan fokus persiapan timnya telah dilakukan beberapa bulan.

Target kemenangan level Asia pun diharapkannya di ajang SEM Asia 2019 ini.

"Persiapan kami empat bulan. Menariknya sirkuit kompetisi ini Sepang International Sirkuit arena balap motor GP. Target kami merajai Asia, sebelumnya Nasional," kata Vito Hanif Addinuri.

Ajang SEM Asia 2019 juga menjadi antusias tim Antasena setelah beberapa tahun vakum, kini Antasena berlaga di kelas Prototype Hydrogen yang pernah diikuti 2012 silam.

"Ada beberapa tantangan karena penggunakan hydrogen ini baru juga fuel cell yang dibawa cukup mahal harus berhati-hati. Inovasi kami memggunakan 3D printing buatan kami sehingga berat mobil turun drastis mencapai 80 kilogram," kata mahasiswa Teknik Material ITS ini. Nur Ika Anisa

Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved