Malang Raya

Pemkot Malang Terbaik Ke-2 se-Jatim untuk Urusan Perencanaan Pembangunan Daerah

Penghargaan diterima Wakil Wali Kota Malang, Sofyan Edi Jarwoko, dari Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa

Pemkot Malang Terbaik Ke-2 se-Jatim untuk Urusan Perencanaan Pembangunan Daerah
Humas
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memberikan piagam penghargaan kepada Wakil Wali Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko, Selasa (9/4/2019). 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN -  Pemerintah Kota Malang menjadi terbaik kedua dalam penghargaan Perencanaan Pembangunan Daerah (PPD).

Penghargaan diterima Wakil Wali Kota Malang, Sofyan Edi Jarwoko, dari Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, pada acara Musyawarah Perencanaan Pembangunan Provinsi Jawa Timur di gedung Grand City Covention and Exhibition Surabaya (9/4/2019).

"Ini tentu patut kita syukuri karena dari informasi yang didapat, ini baru pertama untuk Kota Malang meraih penghargaan di bidang perencanaan pembangunan,” ujar Bung Edi, Selasa (9/4/2019).

Bagi Edi, penghargaan itu menjadi starting poin yang baik untuk melangkah lebih maju dan lebih produktif Kota Malang. Ia berharap, penghargaan itu menjadi motivasi untuk membawa Kota Malang semakin baik.

“Karena model-model perencanaan secara tematik yang kemarin digawangi Barenlitbang Kota Malang mendapat apresiasi yang positif, "ujarnya.

Sofyan Edi juga sekaligus mengikuti Musrenbang RPJMD Provinsi Jawa Timur tahun 2019 - 2024. Dari 38 kota/kabupaten di Jawa Timur, terpilih untuk penghargaan PPD, kategori kota terbaik I Kota Kediri, Terbaik II Kota Malang, Harapan Terbaik I Kota Blitar.

Untuk kategori kabupaten, Terbaik I Kabupaten Bondowoso, Terbaik II Kabupaten Sampang, Terbaik III Kabupaten Situbondo, Harapan I Kabupaten Trenggalek, Harapan II Kabupaten Ngawi dan Harapan III Kabupaten Ponorogo.

Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa saat menghantar pembukaan Musrenbang Jatim, menjelaskan strategi quadro helix sebagai strategi penguatan pembangunan di Jawa Timur.

"Partisipatori, kolaborasi, kerja bersama dan gotong royong menjadi pondasi strategis pembangunan di Jawa Timur. Karenanya sinergi antara birokrasi, akademisi, pelaku usaha dan masyarakat, menjadi poin penting, "tegas Khofifah.

Kepada walikota/bupati se Jatim, Khofifah juga menginfokan dan mengingatkan bahwa ketimpangan perekonomian antara kota dan desa masih tinggi. Itu terpotret dari angka kemiskinan desa sebesar 15,21 persen dan angka kemiskinan kota sebesar 6,97 persen. Secara akumulatif kemiskinan di Jatim sebesar 10,85 persen.

"Yang unik justru rasio gini desa lebih rendah dibandingkan kota, yang artinya gap ekonomi di desa tidak selebar di kota, "imbuh Khofifah.

Belum meratanya gerak pembangunan, dipotret pula oleh gubernur dari PDRB Jatim yang masih hanya ditopang 8 daerah di Jatim yakni Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Kota Malang, Kota Batu, Kabupaten Malang, Pasuruan dan Kota Kediri.

Pekerjaan rumah lainnya adalah rata rata lama sekolah masih 7,3 tahun di Jatim. Data itu masih di bawah angka harapan sekolah yakni 13 tahun. Itu artinya angka putus sekolah masih tinggi.

"Ini pula yang menjadikan IPM Jatim terendah di Jawa, dan masih urutan ke - 15 se Indonesia," ungkap Khofifah. 

Penulis: Benni Indo
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved