Rumah Politik Jatim

Doakan Pesta Demokrasi Aman, Damai dan Tenteram Melalui Ngaji Kebangsaan

Ratusan orang hadir dalam acara Ngaji Kebangsaan di Sentra Bangkodir, Pogar, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, Minggu (14/4/2019) malam.

Doakan Pesta Demokrasi Aman, Damai dan Tenteram Melalui Ngaji Kebangsaan
Galih Lintartika
Ratusan orang hadir dalam acara Ngaji Kebangsaan di Sentra Bangkodir, Pogar, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, Minggu (14/4/2019) malam. 

SURYAMALANG.COM, PASURUAN - Ratusan orang hadir dalam acara Ngaji Kebangsaan di Sentra Bangkodir, Pogar, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, Minggu (14/4/2019) malam.

Acara ini diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Putri KHA Wahid Hasyim Bangil dalam rangka peringatan Isro Mi'roj Nabi Muhammad SAW 1440 H sekaligus ngaji kebangsaan.

Tak hanya tausyiah, ada beberapa penampilan dari lenyanyi Veve Zulfikar yang menghibur para peserta yang hadir dalam kegiatan ini.

Gus Wildan, pengasuh Ponpes Putri KHA Wahid Hasyim mengatakan, acara ini memang digelar dengan semangat untuk memperingati isro miroj Nabi Muhammad SAW.

Tapi, kata dia, acara ini juga dikemas sebagai acara ngaji kebangsaan. Ngaji kebangsaan ini dilakukan menjelang pelaksanaan pesta demokrasi, Pemilihan Umum (Pemilu) 2019, mulai dari pilihan presiden, calon anggota dewan dari RI, hingga kabupaten atau kota.

"Ngaji kebangsaan ini diharapkan bisa mempersatukan hati untuk Indonesia," kata Gus Wildan kepada SuryaMalang.com usai kegiatan.

Menurut Gus Wildan, ini bukan acara kampanye, bukan acara partai dan bukan acara politik. Kata dia, acara ini digelar dalam masa tenang kampanye.

"Meski bukan acara politik, tapi kami di sini, selain ngaji kebangsaan, kami semua juga ikut mendoakan agar Pemilu 2019 ini berjalan damai, aman dan tentram," urainya.

Dijelaskan Gus Wildan, dalam acara ini, pihaknya juga mengajak sekaligus mengingatkan semua peserta yang hadir, santri dan santriwati untuk bisa menyambut pesta demokrasi dengan suka cita dan gembira.

Menurutnya, pencoblosan adalah sebuah pesta yang sejogjanya bisa dinikmati secara gembira dan suka ria. Bukan ajang sebagai pemecah belah bangsa, dan saling serang untuk perang.

"Ini sebuah demokrasi yang sudah berjalan sejak lama. Sudah biasa, kalau calon presidennya ada dua. Jangan bermusuhan, kalau bisa saling berikhtiar untuk menentukan calon pemimpin ke depan. Insyallah pemimpin yang terpilih nanti, adalah pemimpin yang dikehendaki allah SWT memimpin bangsa Indonesia ke depan. ayo sama - sama jaga persatuan dan perdamaian," pungkas dia. 

Penulis: Galih Lintartika
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved