Kota Batu

Sekolah Kopi Gandeng Petani Di Kota Batu, Upaya Ubah Pola Pasca Panen Kopi

Pemkot Batu gelar kegiatan sekolah lapangan untuk petani kopi. Sekolah Lapangan tersebut untuk memberikan pengetahuan kepada petani kopi di Kota Batu.

Sekolah Kopi Gandeng Petani Di Kota Batu, Upaya Ubah Pola Pasca Panen Kopi
suryamalang.com/Sany Eka Putri
Kelompok tani Margojoyo menunjukkan bantuan dari pemkot Batu berupa alat penggilingan kopi. 

SURYAMALANG.COM, BATU - Pemkot Batu gelar kegiatan sekolah lapangan untuk petani kopi. Sekolah Lapangan tersebut untuk memberikan pengetahuan kepada petani kopi di Kota Batu. Selain itu, diadakannya sekolah lapangan tersebut juga untuk mengembangkan potensi tanaman perkebunan kopi di Kota Batu.

Sekretaris Dinas Pertanian Kota Batu, Hendri Suseno mengatakan, sekolah itu juga untuk melihat sejauh mana petani kopi di Kota Batu memproses kopi dari masa tanam, panen, hingga produksi. "Lalu juga melihat apa saja kebutuhan petani kopi. Sebagian dari mereka masih manual untuk proses kopi," kata Hendri, Selasa (16/4).

Oleh karena itu, lanjutnya melalui sekolah ini memberikan pengetahuan kepada petani kopi. Dalam sekolah ini petani diberi pemahaman tentang cara memetik kopi saat panen. Lalu memproduksi kopi pasca panen. Karena dalam sekolah kopi ini yang lebih ditekankan adalah pasca panen.

"Banyak setelah mengikuti sekolah ini petani jadi mengerti bagaimana caranya memproduksi kopi pasca panen. Dari yang hanya menjual 6000 rupiah per kilogram, bisa menjual 20 ribu rupiah per gram," paparnya.

Tidak hanya memberikan sekolah ke petani, pemkot Batu juga memberikan bantuan berupa alat kepada petani melalui kelompok tani. Sudah ada empat kelompok tani yang menjadi peserta sekolah lapangan dan mendapatkan bantuan alat.

Yaitu kelompok tani Podorukun Kelurahan Songgokerto, Pandermania Desa Oro-oro Ombo, Margojoyo Desa Pesanggrahan, dan KWT Srikandi Desa Bulukerto. Dalam sekolah ini pihak pemkot mendatangkan pemateri yang sudah memahami tentang kopi. Setiap satu topik yang dibahas di sekolah ini petani mengikuti lima jam pembelajaran dan 10 kali pertemuan.

Ia menyebutkan ada 6000 hektar lahan yang sudah ditanami kopi. Namun yang masih tercover oleh Pemkot Batu baru 300 hektar saja. "Potensi kopi di Batu ini sangat bagus. Makanya kami ingin mengembangkan potensi ini, karena disamping bisa meningkatkan perekonomian petani kopi di Batu," pungkasnya.

Muhammad Anwar anggota petani kopi Margojoyo Desa Pesanggrahan menambahkan melalui sekolah lapangan ini petani bisa mengetahui proses memproduksi kopi pasca panen. Terlebih mendapatkan bantuan alat untuk menggiling kopi setelah panen.

"Tetapi yang paling penting itu adalah memiliki sumber daya manusia anak-anak mudanya. Kami di sini memperbanyak itu, karena kreativitas itu ada dipemuda," kata Anwar. (Sun)

Penulis: Sany Eka Putri
Editor: Achmad Amru Muiz
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved