Rumah Politik Jatim

Hasil Pilpres 2019 Tidak Jauh Beda dengan Pilpres 2014

Bagi saya debat tidak memberi dampak. Kampanye sudah tidak begitu efektif karena sebenarnya pemilih sudah terpolarisasi.

Hasil Pilpres 2019 Tidak Jauh Beda dengan Pilpres 2014
Wawan Sobari, pengamat politik dari Universitas Brawijaya (UB). 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN – Pengamat politik dari Universitas Brawijaya Wawan Sobari mengatakan, hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei tentang hasil pilpres diprediksi angkanya tidak jauh berbeda dengan perhitungan resmi oleh KPU RI.

Di sisi lain, Sobari juga mengatakan, hasil pemilu ini tidak jauh berbeda dengan 2014.

“Jadi di 2014, Jokowi dapat 53.15 persen, sedangkan Prabowo 46.85 persen. Nah, itu ternyata tercermin hasil survey sebelumnya. Kalau ini juga, relatif sama dengan hasil survey di Maret dan April,” ujar Wawan, Rabu (17/4/2019).

Oleh beberapa lembaga survey, pada Maret lalu, Sobari mengkalkulasi sendiri. Hasilnya, dari 9 lembaga survei rata-rata avaregenya 53.77 persen untuk pasangan 01. Sedangkan untuk pasangan 02, angkanya 35.89 persen pada Maret.

“Pasangan 01 naik 54.36 persen di April. Kalau pasangan 02, menjadi 38.2 persen dengan sisa swing voters 7.44 persen. Kalau melihat hasil QC saat ini, itu kan artinya tidak jauh berbeda dengan hasil pilpres 2014,” terangnya.

Pun angka swing voter. Kata Sobari, pada 2014 lalu banyak swing voters yang memili Prabowo.

Hasil yang tidak jauh berbeda dari Pilpres 2014 ini, disebut Sobari juga bagian dari dampak adanya polarisasi di tengah masyarakat. Akibat polarisasai itu, kampanye formal seperti debat tidak memberikan dampak apa-apa.

“Bagi saya debat tidak memberi dampak. Kampanye sudah tidak begitu efektif karena sebenarnya pemilih sudah terpolarisasi. Sudah terbelah sejak awal. Ya ini sebetulnya tidak jauh beda dengan Pilpres 2014. Peta politik kita tidak berubah,” katanya.

Namun yang menarik menurut Sobari adalah apakah terjadi pendewasaan poplitik atau kematangan berpolitik masyarakat. Saat ini Sobari tidak melihat hal itu. Polarisasi telah membuat masyarakat menggunakan politik identitas daripada politik visi.

“Kalau sudah terpolarisasi, masyarakat berpikirnya emosional,” imbunya.

Halaman
12
Penulis: Benni Indo
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved