Malang Raya

Peringati Hari Kartini, Museum Musik Indonesia Kota Malang Bersih-bersih Piringan Hitam

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, Museum Musik Indonesia (MMI) Malang menggelar acara mencuci piringan hitam.

Peringati Hari Kartini, Museum Musik Indonesia Kota Malang Bersih-bersih Piringan Hitam
suryamalang.com/Mochammad Rifky Edgar Hidayatullah
Beberapa ibu-ibu di Kota Malang saat menunjukkan koleksi piringan hitam sebelum mereka membersihkannya dalam peringatan Hari Kartini. 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Dalam rangka memperingati Hari Kartini, Museum Musik Indonesia (MMI) Malang menggelar acara mencuci piringan hitam. Kegiatan itu digelar di Gedung Gajayana Kota Malang, Senin (22/4).

Dalam kegiatan itu, ratusan piringan hitam yang dikoleksi oleh MMI dicuci oleh para ibu-ibu yang terdiri dari beberapa komunitas perempuan di Kota Malang.

Ketua MMI Kota Malang, Hengky Kurniawan menjelaskan, tujuan digelarnya acara ini ialah untuk melestarikan piringan hitam. Terutama bagi para musisi perempuan yang pernah mewarnai dunia permusikan di Indonesia.

"Piringan hitam ini merupakan koleksi yang langka. Oleh karena itu kami menyebutnya harta karun, dan ini harus dilestarikan agar suaranya tetap jernih ketika di putar," ujarnya.

Sebelum mencuci piringan hitam, para ibu-ibu ini membersihkan dulu debu dan noda yang menempel pada piringan hitam. Setelah itu, piringan hitam dicuci dengan detergen dan di poles secara perlahan-lahan.

Kemudian, piringan hitam dibilas dengan air bersih dan di keringkan dengan menggunakan kain kering.

"Dalam mencucui harus hati-hati, jangan sampao merusak ril yang terdapat dalam piringang hitam. Biasanya di dalam ril itu ada noda dan jamur yang sulit untuk dihilangkan" tambahnya.

Dijelaskan Hengky, MMI Kota Malang memiliki 200 koleksi piringan hitam. Koleksi piringan hitam tersebut dikoleksi mulai dari tahun 1957 hingga tahun 1985 dari penjuru musisi di seluruh Indonesia.

Salah satunya ialah milik artis Meriam Bellina yang menjadi koleksi terbaru MMI dan juga merupakan piringan hitam terakhir.

"Piringan hitam terakhir di Indonesia diproduksi pada tahun 1985. Setelah itu sudah tidak ada lagi. Kalau ada, proses produksinya sudah di luar negeri," ucapnya.

Hengky mengatakan, dalam menyimpan piringan hitam ini harus diletakkan di tempat yang kering dan lembab. Hal itu bertujuan, agar tidak ada kotoran yang menempel

"Kami ingin merawat, kami ingin menjaga, agar anak cucu kita nanti bisa ikut mendengarkan. Bahwa Indonesia memiliki seniman musik perempuan," ucapnya.

Sementara itu, selain melakukan agenda mencucui piringan hitam, dalam kegiatan tersebut juga menampilkan seni musik yang dimainkan oleh para perempuan.

Seperti grup musik dari Kampung Cempluk Kota Malang. Grup yang beranggotakan delapan perempuan itu merekawakan beberapa lagu khas daerah. Bahkan diakhir pertunjukkan mereka juga menyanyikan lagu ibu kita Kartini.

"Ini adalah momen yang spesial bagi perempuan, terutama mengenai emansipasi wanita. Kegiatan ini sangat positif, dan semoga di tahun depan ada lagi," ucap satu di antara anggota grup musik Kampung Cempluk

Penulis: Mochammad Rifky Edgar Hidayatullah
Editor: Achmad Amru Muiz
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved