Hasyim Muzadi: Perbedaan Agama Harus Dihargai
Indonesia merupakan negara yang beragam. Tiap orang seharusnya memiliki rasa toleransi yang besar.
SURYAMalang, KOTA - Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), KH Hasyim Muzadi mengatakan, NU harus memiliki strategi dalam menghadapi radikalisasi dan liberalisasi yang membahayakan bangsa.
“Kita tak boleh kalah, kalau perlu harus lebih berani menghadapi mereka,” kata Hasyim dalam Seminar 'Strategi NU Dalam Menghadapi HAM Radikal, dan Liberal' di Gedung Oesman Mansyur, Universitas Islam Malang (Unisma), Rabu (21/01/2015) pagi.
Hasyim pun menyinggung beberapa kejadian kekerasan yang disebabkan perbedaan agama, lalu penempelan banner tidak boleh mengucapkan selamat natal bagi umat Islam.
Menurut dia, hal ini sebenarnya tak boleh terjadi karena Indonesia merupakan negara yang beragam. Tiap orang seharusnya memiliki rasa toleransi yang besar.
“Apabila timbul masalah, maka penyelesaiannya harus seimbang. Jangan langsung dilawan dengan fisik,” kata dia.
Prof Dr KH Tholhah Hasan, yang juga menjadi pembicara dalam seminar ini, pendidikan agama di seluruh jenjang sekolah sangat penting untuk memahamkan toleransi beragama pada masyarakat. Oleh karena itu, ia berharap agar mata pelajaran ini tidak di hapus.
Selain dua pembicara ini, juga hadir Prof Dr H Abdurrahman Mas'ud (Kepala Litbang Kementriang Agama RI), dan Rektor Unisma Prof Dr Masykuri Bakri.
Meski begitu, sosok Dr KH Hasyim Muzadi sangat menjadi pusat perhatian saat itu. Ini disebabkan mantan Ketua NU ini baru saja dilantik sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden, namun gayanya tetap sederhana.
(Adrianus Adhi)