Kisah PSK Tobat dari Malang, Lahirkan Anak Hasil ‘Kerja’ di Lokalisasi

Si buah hati itu dibawa dan digendongnya ketika menerima uang bantuan dari Kemensos RI.

Editor: Aji Bramastra
wartakota
Ilustrasi. 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN – SA (31) teus menutupi wajahnya dari jepretan kilat fotografer, Kamis (5/3/2015).

Meski demikian, masih terlihat jelas rona gembira dari kedua matanya.

SA adalah satu dari 12 mantan pekerja seks komersial (PSK) yang mendapat dana bantuan sebesar Rp 5.050.000 dari Kementerian Sosial RI per orang.

Ia dulu bekerja di lokalisasi Embong Miring, Ngantang, yang baru saja ditutup oleh Pemkab Malang.

SA lalu menceritakan pengalamannya bergulat di dunia prostitusi.

Dia sempat bekerja di lokalisasi selama setahun.

Setelah itu, ia bekerja di sebuah usaha di Kota Batu untuk menghidupi anaknya.

Dari perkawinan pertamanya, yang berakhir dengan perceraian, ia punya satu anak laki-laki berusia 15 tahun.

Sedang anak keduanya, baru berusia delapan bulan. Ia mengaku, anaknya itu diperoleh dari hasil ‘kerja’ ketika di lokalisasi.

Si buah hati itu dibawa dan digendongnya ketika menerima uang bantuan dari Kemensos RI.

"Selama ini memang sudah tinggal di Batu. Di rumah kakak. Asal saya memang Nganjuk," tutur ibu dua anak ini.

SA mengaku senang bisa mentas sebagai PSK.

Ia berjanji akan menggunakan dana bantuan dari Kemensos, untuk menghidupi anak-anaknya.

"Saya rencana mau buka warung kopi di Batu. Ada yang orang yang menawarkan tempat," ungkap wanita asal Kabupaten Nganjuk itu.

( Sylvianita Widyawati )

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved