Nenek 63 Tahun Ditahan
Nenek Asyani Tukang Pijat yang Ikhlas Dibayar Rp 6.000
Nenek Asyani dikenal sebagai tukang pijat yang sangat dipercaya masyarakat. Warga di sekitar sangat percaya dengan sentuhan dan pijatannya.
SURYAMALANG.COM, SITUBONDO – Nenek Asyani sampai saat ini terus mendekam di penjara. Belum jelas sampai kapan proses hukum atas tuduhan pencurian 7 batang kayu yang dialamatkan ke dirinya tuntas.
Siapa sebenarnya nenek Asyani. Suryamalang.com, mengunjungi tempat tinggal sang nenek di Situbondo.
Selama ini, nenek ini tinggal di tempat penampungan korban banjir Situbondo di Desa/Kecamatan Jatibanteng, Kabupaten Situbondo.
Nenek Asyani tinggal seorang diri di rumah penampungan berukuran sempit 3 x 5 meter. Rumah semi permanen ini berdinding asbes. Rumah penampungan ini berderet. Asyani menempati nomor 27.
Nenek Asyani dikenal sebagai tukang pijat yang sangat dipercaya masyarakat. Warga di sekitar sangat percaya dengan sentuhan dan pijatannya. Warga puas karena selain dipijat juga dijampi-jampi.
Nenek Asyani tidak pernah menetapkan tarif atas keahlian pijatnya. Perempuan itu selalu membantu tetangganya yang sedang sakit dan minta dipijat.
"Warga sini biasa ngasih ke Mbok Asyani kadang Rp 6.000 atau Rp 7.000. Paling kalau yang dipijat orang mampu ngasih Rp 15.000. Mbok Asyani tak pernah peduli dengan bayaran. Pokok membantu,” kata Ida Reniwati, tetangga di tempat penampungan banjir.
Asyani sekitar sepuluh tahun lalu pindah di rumah semi permanent itu. Ramah lama dijual karena untuk berobat suaminya. Asyani hidup seorang diri, setelah suaminya meninggal dunia tahun 2006 silam.
Dari perkawinan besama Sumardi, Asyani di karuniai empat anak. Dua laki laki dan dua peremupuan, mereka adalah Muaris (45) dan Suep (32), Linda (28) serta Mustiana (21). (Izi Hartono)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/rumah-asyani.jpg)