ISIS di Malang

Kelompok ISIS Ternyata Iming-imingi Warga Jatim dengan Bayaran Dolar

“Sesampai di sana, anggota itu bertemu dengan warga Indonesia lain yang ada di sana. Mereka pada menyesal, karena fakta di sana ternyata..."

Editor: Aji Bramastra
surya/istimewa
Tim Densus 88 menyerbu rumah anggota ISIS di Jalan Soputan, Kota Malang, Kamis (26/3/2015). 

SURYAMALANG.COM, SURABAYA – Penangkapan tiga anggota ISIS di Kota Malang, langsung membuat Polda Jatim melakukan upaya sosialisasi agar masyarakat tak terseret ikut bergabung dengan orgaisasi radikal tersebut.

Dari penelusuran Densus 88 dan intelijen kepolisian, ada sejumlah modus yang dilakukan kelompok ISIS untuk merekrut anggota di Jawa Timur.

Diantaranya, melalui pendekatan ideologi, iming-iming uang, dan janji-janji lain.

Yang menjadi sasaran atau menjadi korban rekrutmen kelompok radikal ini, biasanya adalah mereka yang ideologinya masih belum cukup kuat, mereka yang sedang bermasalah di sisi ekonomi, atau warga yang tingkat pendidikan dan pengalamannya kurang.

“Ada banyak faktor yang membuat warga mau bergabung dengan ISIS. Pertama, masalah ideologi. Ini sulit dibendung, karena masing-masing orang punya tingkat keyakinan dan pemahaman yang berbeda-beda,” kata Kapolda Jatim, Irjen Pol Anas Yusuf, Jumat (27/3/2015).

Selain faktor di atas, Anas juga menyebut, ada juga faktor ekonomi yang paling sulit ditolak oleh masyarakat miskin.

“Biasanya, untuk merekrut anggota kelompok ini menjanjikan uang sekian dolar dan sebagainya bagi warga yang mau bergabung,” sambung Anas.

Ini sempat dibuktikan oleh anggota Densus 88 yang menyamar dan ikut bergabung bersama kelompok ISIS sampai ikut diberangkatkan ke Syiria.

“Sesampai di sana, anggota itu bertemu dengan warga Indonesia lain yang ada di sana. Mereka pada menyesal, karena fakta di sana tidak seperti yang dijanji-janjikan,” paparnya.

Faktor lain yang menjadi alasan rekruitmen adalah masalah pendidikan.

Di mana, masih kata Kapolda, warga yang tingkat pendidikan dan pengalamannya kurang, lebih mudah untuk dibujuk agar bergabung.

Bagaimana dengan sarjana yang mau bergabung?

"Berarti persoalannya ada pada ideology,” jawab Anas. ( M Taufik )

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved