Blitar
Juragan Toko Ini Bingung Cari Polisi Untuk Buka Borgol di Tangannya
Kasihan betul korban perampokan satu ini. Harta amblas, tubuh babak belur, ke kantor polisi pun susah payah karena tangan diborgol perampok...
SURYAMALANG.COM, BLITAR - Entah lupa atau disengaja, empat perampok di Blitar belum melepaskan borgol yang melingkar di tangan korban mereka.
Akibatnya, korban, yakni Suratmin (62), warga Lingkungan Jurang Menjing, Kelurahan/Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar, pun susah payah melepas borgol itu.
Pedagang sukses pakaian impor di rumahnya itu pun bingung karena kedua tangannya terbogol.
Akhirnya, setelah hari mulai terang, Senin (22/6/2015) siang, korban dibonceng sepeda motor oleh Paini, istrinya, untuk dibawa ke Polsek Garum.
Selain melaporkan kasus perampokan di rumahnya, juga sekalian minta tolong, membukakan borgol di tangannya.
"Akhirnya, oleh pak polisi, borgol ditangan saya dibukakan. Borgolnya ya persis dengan miliknya pak polisi," papar Suratmin.
Baik korban maupun polisi, menduga kalau pelakunya sudah paham dengan seluk beluk di rumah korban. Di antaranya, korban hanya tinggal berdua dengan istrinya.
Sebab, anaknya sudah berkeluarga dan tinggal sendiri di rumahnya, yang berjarak 50 meter dengan bapaknya.
"Sepertinya, salah satu pelakunya itu mengenali korban dan paham betul siapa korban itu," kata seorang polisi.
Dalam perampokan ini, pelaku yang berjumlah empat orang menguras harta benda korban, di antaranya uang Rp 70 juta, dan perhiasaan emas seberat 55 gram.
Tak hanya menguras harta bendanya, korban dan istrinya, Paini (58), juga dilukai.
Suratmin terluka pada jari tangan kanannya dan mulutnya akibat kena sabetan parang.
Sementara istrinya, dihajar dengan linggis kecil hingga wajahnya lebam-lebam.
Suratmin menceritakan, perampokan terjadi sekitar pukul 01.00 WIB. Saat itu kondisi kampung cukup sepi meski bulan puasa.
Tak ada pemuda begadang, seperti hari-hari biasanya. Saat pelaku beraksi, dirinya sudah tidur di kamar depan, sedang istrinya tertidur di ruang tengah atau ruang televisi.
"Mendadak, saya terbangun karena kaget. Tubuh saya, ditindih orang. Saat saya akan melawan, mereka langsung menyabetkan parang, sambil ngomong, jangan berteriak apalagi melawan kalau tak ingi kami habisi. Itu sekalian parangnya sudah di depan mulut saya," tuturnya.
Selanjutnya, korban dibawa ke ruang tengah, tempat istrinya tertidur. Di ruang itu, Suratman diborgol kedua tangannya, sedang istrinya hanya diikat tali rafia kedua tangannya.
Mereka disuruh duduk di kursi sofa, dengan dijaga dua pelaku, yang menenteng parang. Namun, wajah keduanya tak bisa dikenali karena memakai cadar.
"Saya bisa melihat pelakunya karena lampu di ruangan tak dimatikan. Cuma, nggak bisa mengenali wajahnya karena ditutup cadar," ujarnya.
Di saat kedua korban disekap di ruang tengah itu, dua pelaku lainnya mengobrak-abrik isi rumah. Akhirnya, mereka menemukan perhiasaan emas di kamar korban.
Giliran mencari uang dan tak menemukannya, mereka mengamuk. Istri korban digelandang dan dipukuli kepalanya dengan linggis kecil (kubut), untuk dipaksa menunjukkan uangnya.
"Sebab, saya bilang nggak punya uang sehingga mereka marah dan memukuli saya dengan linggis kecil," paparnya.
Karena kesakitan, Paini tak tahan dan menunjukkan tempat disembunyikan uangnya Rp 70 juta, di bawah kasur kamar tidurnya. Setelah mendapatkan harta benda korban, pelaku kabur.
Sebelum meninggalkan rumah, pelaku sempat minta izin ke korban, kalau akan membawa satu mobilnya. "Mobil mu tak bawa satu," ujar salah satu pelaku dengan logat khas Blitaran.
Namun, ternyata tak jadi karena ketiga mobil korban, Kijang Innova, Kijang kapsul, pik up, masih ada di garasinya.
Mereka keluar dari rumah dengan melalui jalan semula, yang dipakai masuk.
Selanjutnya, mereka melompat pagar tembok belakang rumah korban setinggi 4 meter.
Caranya, mereka naik turun pagar tembok itu dengan memanjat pohon rambutan, yang ada di pekarangan tetangganya. Selanjutnya, mereka kabur dengan menyusuri jalan pematangan persawahan.
Itu tembus ke jalan raya jurusan Malang-Blitar, yang hanya berjarak 100 meter dari rumah korban.
"Mereka masuk ke rumah saya, dengan mencongkel pintu dapur. Kami sendiri heran, mereka sepertinya sangat paham betul dengan seluk beluk rumah saya," ungkapnya.
AKP Sudarto, Kapolsek Garum, mengatakan, pihaknya masih melakukan olah TKP. Sementara petugas masih sedang memburunya.
"Dugaan kami, pelakunya sudah mempelajari kondisi rumah korban karena beraksi dengan mudah. Termasuk, kok tahu korban sedang menyimpan uang sebanyak itu," paparnya.
( Imam Taufiq )
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/perampokan-di-blitar_20150622_135000.jpg)