Malang Raya

Usaha Cincau Kota Batu Ini Terpaksa Gulung Tikar

"Bahan baku yang mahal tidak bisa kami jangkau lagi. Makanya kami terpaksa tutup usaha cincau ini,"

Usaha Cincau Kota Batu Ini Terpaksa Gulung Tikar
SURYAMALANG.COM/Achmad Amru Muiz
Peralatan usaha pembuatan cincau yang berhenti produksi karena mahalnya bahan baku, Minggu (5/7/2015) 

SURYAMALANG.COM, BATU - Kesulitan bahan baku, industri rumah tangga cincau gulung tikar. Padahal, cincau sebagai bahan campuran minuman es campur tersebut pada bulan Ramadan seperti sekarang ini naik tajam permintaanya.

"Bahan baku yang mahal tidak bisa kami jangkau lagi. Makanya kami terpaksa tutup usaha cincau ini," kata Ny Nur Suwandi, pemilik industri Cincau di desa Tlekung Kecamatan Junrejo Kota Batu, Minggu (5/7/2015).

Dijelaskan Ny Nur Suwandi, biaya produksi yang dikeluarkan setelah harga bahan baku mahal tidak lagi sebanding dengan pendapatan yang diterima. Dengan pertimbangan khawatir merugi terlalu besar sehingga usaha pembuatan cincau tersebut dihentikan sejak setahun lalu.

"Sebenarnya kami masih ingin memproduksi lagi. Tapi karena sudah terlanjur berhenti lama akhirnya tahun ini kami tidak memperoduksi lagi meski permintaan selalu silih ganti berdatangan," ujar Ny Nur Suwandi.

Dijelaskan Ny Nur Suwandi, Cincau merupakan makanan siap saji untuk hidangkan buka puasa. Biasanya, cincau disajikan dengan kolak maupun es buah. Ketika harga daun cincau masih murah dikisaran Rp 15.000 per kilogram, rumah produksi cincau miliknya sanggup memperoduksi 900 kaleng atau 1800 kg cincau per harinya.

"Harga daun cincau itu terus melambung hingga Rp 45.000 per kilogram sehingga kami tidak lagi sanggup membeli. Makanya usaha cincau dengan 15 karyawan kami hentikan produksinya," ucap Ny Nur Suwandi.

Menurut Ny Nur Suwandi, setiap 4 kg daun cincau biasanya menghasilkan 800 -900 kaleng cincau. Setiap kaleng beratnya 20 kg. "Terakhir kami buat harga cincau setiap kalengnya Rp 28.000.

Tapi pemasarannya seret sehingga kami putuskan untuk berhenti sementara," ucap Ny Nur Suwandi yang belum bisa memastikan kapan memulai usaha cincau lagi.

Memang, diakui Ny Nur Suwandi, pihaknya sempat melakukan penanaman tanaman cincau untuk bisa memproduksi bahan baku sendiri. Akan tetapi setelah panen ternyata daun cincau hasil penanaman sendiri di daerah Batu tidak berhasil. Dimana cincau tidak bisa membeku setelah dilakukan proses pengolahan.

"Setelah gagal menanam bahan baku tanaman cincau sendiri itu kami menggantungkan pasokan daun cincau dari Ponorogo, Pacitan, dan Wonogiri Jateng. Tapi karena harga terus melambung membuat kami kesulitan sehingga terpaksa menutup usaha cincau," tutur Ny Nur Suwandi.

Penulis: Ahmad Amru Muiz
Editor: fatkhulalami
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved