Minggu, 24 Mei 2026

Malang Raya

Wayang Krucil Malang Berusia 300 Tahun dan Terancam Punah

Wayang krucil adalah aset budaya di Dusun Wiloso, Desa Gondowangi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang.

Tayang:
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: fatkhulalami
SURYAMALANG.COM//Sylvianita Widyawati
Seorang anak memperlihatkan perhatian pada wayang krucil dengan pura-pura menjadi dalang sebelum pentas aslinya dimulai, Jumat (24/7/2015). Pentas wayang krucil diadakan di Dusun Wiloso, Desa Gondowangi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang. 

SURYAMALANG.COM, WAGIR - Wayang krucil adalah aset budaya di Dusun Wiloso, Desa Gondowangi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang.

Kini jumlah wayangnya tinggal 72 dari 100-an karakter. Karena usia wayang sudah tua, ada karakter-karakter yang sudah sulit diperbaiki.

Melihat itu, pemerintah desa (Pemdes) setempat akan memberi perhatian khusus. Sebab usia wayang krucil yang ada sudah ratusan tahun.

"Yang diteliti anak-anak Universitas Negeri Malang (UM), usia wayang krucil sekitar 300 tahun. Itu dilihat dari kayu dan catnya," jelas Danis Setiabudi Nugroho (29), Kades Gondowangi kepada SURYAMALANG.COM, Jumat (24/7/2015).

Untuk itu, Pemdes mengalokasikan anggaran di APBD Desa-nya pada tahun ini untuk membuat duplikasinya. Namun ia enggan membuka anggarannya. Menurut Danis, yang sering dipakai pentas adalah wayang krucil asli sehingga dikhawatirkan rusak.

"Kalau ada duplikasinya kan enak. Jangan sampai wayang krucil ini punah," kata Danis.

Koleksi wayang krucil dimiliki Mbah Sayinem (80) yang mendapat warisan dari almarhum kekeknya, Mentaram. Ia sendiri tidak tahu "tuanya" wayang krucil itu.

"Saya sendiri sudah 80 tahun. Mungkin ya sudah lebih dari usia saya," ungkap Sayinem.

Jika jadi diduplikasi, maka wayang krucil akan dibuat dari kayu dadap. Sedang wayang krucil asli dari kayu pule yang sekarang ini sudah tidak ada.

Satu-satunya kayu pule yang ada saat ini ada di punden Sentono di Desa Pandanrejo, Kecamatan Wagir. Untuk melestarikan, digelar pagelaran wayang krucil di halaman rumah Sayinem, Jumat siang.

Pagelaran itu digelar seminggu setelah Lebaran.

"Rutin tiap tahun usai Lebaran," jelas kades muda ini.

Penontonnya adalah warga desa setempat. Ada gamelan dan sinden juga.

Untuk pentas wayangnya, ada panggung kecil dengan dalang Djain. Djain masih ada hubungan keluarga dengan Sayinem. Beda dengan wayang biasanya, gunungan wayang krucil justru berbentuk seperti buket bulu-bulu burung Jalak Jawa.

"Aslinya bulu burung merak," kata Danis.

Menurut kades, semangat pihaknya adalah naluri melestarikan budaya. Wayang krucil ini sendiri informasinya dari Jombang. Namun masuk ke Dusun Wiloso sejak 1889.

"Wayang krucil itu wayang ngamen. Mengangkat tema cerita-cerita kerajaan di Jawa Timur, seperti Kanjuruhan, Majapahit, Doho," terangnya.

Sehingga ada tokoh-tokoh seperti Minakjinggo

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved