Rabu, 15 April 2026

Malang Raya

Lihat Kakak Gantung Diri, Ini Reaksi Adiknya yang Bikin Warga Berhamburan

Syaiful juga mengatakan bahwa Solikin hidup menduda selama 20 tahun di Kalimantan Barat.

Penulis: Adrianus Adhi | Editor: fatkhulalami
SURYAMALANG.COM/Adrianus Adhi
Polisi dan tim reaksi cepat Kota Malang mengevakuasi jasad Solikin setelah ditemukan gantung diri di dapur rumah, Selasa (28/7/2015). Diduga, Solikin tewas karena depresi persoalan ekonomi. 

SURYAMALANG.COM, KEDUNGKANDANG – Warga Jalan Kolonel Sugiono Gg 3A digegerkan dengan ulah M Solikin (64) pada Selasa (28/7/2015) siang. Kakek yang baru tiga bulan tinggal di kampung ini tewas setelah gantung diri di dapur tempat tinggalnya.

Kejadian tersebut diketahui pertama kali oleh adik Solikin, Syaiful Bakri (55).

“Saya tidak punya firasat apa-apa. Tadi siang, kakak sempat meminta rokok pada saya, dan saya juga sempat menawarkan makan padanya,” kata Syaiful pada SURYAMALANG.COM, Selasa sore.

Syaiful menambahkan, tawaran makan siang itu ditolak. Kakak kandungnya memilih menghisap sebatang rokok kretek darinya di ruang tamu seorang diri. Rumah Syaiful saat kejadian berlangsung juga sedang sepi.

Mengetahui hal ini, Syaiful pun meneruskan pekerjaannya membuat meja di rumah Pak Ishak, yang berhadapan dengan rumahnya. Lalu, Sekitar pukul 13.00, Syaiful kembali pulang untuk makan siang.

Sesampainya di sana, Syaiful menemukan tubuh kakak kandungnya menggantung di plafon dapur. Solikin menggantung dengan seutas tali tampar berwarna biru. Tali itu dikaitkan pada plafon, serta menggantung leher Solikin.

Syaiful yang terkejut mendapati hal ini tak mampu berbuat apa-apa pada tubuh Solikin. Dia memilih keluar rumah, berteriak minta tolong. Teriakan ini membuat warga berdatangan ke rumah Syaiful melihat kondisi Solikin yang telah tewas.

Tak beberapa lama, polisi dan tim identifikasi datang ke lokasi tersebut.

“Sejak kemarin malam, dia banyak merenung. Dia duduk sila (berdoa) sambil menundukkan kepalanya. Tidak tahu apa yang ada dipikirannya,” tambah Syaiful.

Walau demikian, ada dugaan bahwa Solikin tewas lantaran depresi persoalan ekonomi. Dugaan ini lantaran Solikin tak bekerja apapun sejak tinggal di rumah adiknya. Dia tak berpenghasilan, dan menggantungkan hidupnya pada keluarga Syaiful sepulang dari tanah rantauan di Kalimantan Barat.

Syaiful juga mengatakan bahwa Solikin hidup menduda selama 20 tahun di Kalimantan Barat.

“Di Kalimantan, kakak saya kerja serabutan,” ungkapnya.

Ketua RT 1, RW 4, Hady Suwignyo (41) menambahkan Solikin pendiam selama tinggal di sana.

“Kondisinya kurang stabil. Dia juga terkadang diberi makan sama tetangga,” jelasnya.

Kapolsek Kedungkandang, Kompol Putu Mataram memastikan bahwa Solikin tewas lantaran bunuh diri. Ini karena polisi tidaka menemukan tanda-tanda kekerasan di sekitar tubuh Solikin. Hasil identifikasi juga menjelaskan bahwa kematian Solikin lantaran bunuh diri.

“Untuk penyebab gantung diri masih kami selidiki sampai saat ini,” tambah Putu yang datang ke lokasi bunuh diri Solikin.

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved