Breaking News
Minggu, 12 April 2026

Kediri

Pakai Kaki Palsu Bikinan Sendiri, Warga Tak Mampu Berharap Bantuan

Telapak kaki palsu itu terbuat dari bahan bekas pipa paralon. "Kalau dibuat jalan ya tidak enak, apalagi ukuran kaki palsunya tidak pas.."

Penulis: Didik Mashudi | Editor: Aji Bramastra
suryamalang
Dodot penderita cacat telapak kaki dengan kaki palsu sederhana buatan sendiri. 

SURYAMALANG.COM, KEDIRI - Dodot Widodo (45) sudah dua tahun hidup dengan telapak kaki palsu sederhana.

Masalahnya Ia tidak punya biaya untuk membeli kaki palsu buatan pabrik.

Karena telapak kakinya buatan sendiri, untuk dibuat jalan tidak nyaman. Telapak kaki palsu itu terbuat dari bahan bekas pipa paralon.

"Kalau dibuat jalan ya tidak enak, apalagi ukuran kaki palsunya tidak pas dengan ukuran kakinya," ungkap Dodot di rumahnya Dusun Ngadirejo, Desa Dukuh, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, Rabu (29/7/2015).

Untuk mengganjal ukuran kaki palsunya, Dodot terpaksa membungkus ujung kakinya dengan beberapa lapis kain. Pelapis kain ini supaya kalau dibuat jalan kulitnya tidak lecet.

Dalam keseharian Dodot juga masih menggunakan kruk penyangga kaki. Karena buatan sendiri dari bahan seadanya, ukuran kaki palsu itu terasa kurang pas.

Kaki palsu Dodot dari pipa paralon itu dikaitkan dengan baut besi. Sedangkan untuk telapak kakinya terpasang sepatu kumal.

Dodot berharap ada dermawan yang rela menyumbangkan untuk mendapatkan kaki palsu buatan pabrik.

Kaki Dodot mengalami cacat seumur hidup setelah mengalami kecelakaan tertabrak KA di perlintasan tanpa palang pintu di Ngadiluwih. Saat itu sepulang kerja dia disambar KA yang tengah melintas.

Warga mengira Dodot hendak melakukan percobaan bunuh diri. Padahal yang terjadi sebenarnya memang mengalami kecelakaan.

Pascamusibah kecelakaan itu, Dodot juga kehilangan pekerjaan yang menjadi mata pencahariannya. Kemudian Dodot merintis menjadi perajin sangkar burung.

Dari hasil kerajinan sangkar burung inilah Dodot membiayai kehidupan dirinya dan anak tunggalnya. Namun hasil penjualan sangkar burung itu hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

Duda satu anak ini mengaku tetap bersemangat menjalani kehidupan membuat sangkar burung. "Hasil menjual sangkar burung ini juga tidak seberapa, hanya cukup untuk biaya makan sehari-hari," ungkapnya. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved