Malang Raya
Jelang Pasar Bebas ASEAN, BNSP Tawarkan Sertifikasi Lulusan Gratis
Saat ini semua pekerja yang akan diluar negeri harus mempunyai sertifikat kompetensi, baik itu penyanyi maupun pekerja lain.
Penulis: sulvi sofiana | Editor: fatkhulalami
SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Guna ercepatan sertifikasi menjelang Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), Ketua Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), Sumarna F Abdulrahman menawarkan pembebasan biaya bagi sertifikasi lulusan program studi (prodi) di Universitas Merdeka (Unmer) Malang yang berhasil membuka Lembaga Sertifikasi Profesi 1 (LSP 1) sebelum November 2015.
Hal ini ia sampaikan saat mengisi kuliah tamu ' Strategi peningkatan Kompetensi Dan Profesi Lulusan perguruan Tinggi' di hadapan dosen-dosen Unmer, Selasa (4/8/205).
Menurut Sumarna, pembebasan biaya sertifikasi ini masih bisa selama BNSP belum menutup pengeluaran tahun ini. Hal ini karena saat ini semua pekerja yang akan diluar negeri harus mempunyai sertifikat kompetensi, baik itu penyanyi maupun pekerja lain.
"Jangan menunggu semua prodi siap untuk diajukan LSP 1.Tidak sulit untuk menciptakan LSP 1, cukup SK (Surat Keputusan) rektor serta menyiapkan toolbook dan skemanya berdasarkan prodinya," jelasnya.
LSP 1 akan mensertifikasi lulusan menjadi lulusan siap kerja yang kompeten, sehingga akan memudahkan lulusan dan para pengusaha dan industri yang akan mengambil tenaga kerja yang berkompeten. Parameter sertifikat kompetensi, seperti yang dilakukan dengan negara-negara lain yaitu berkaitan dengan kebutuhan industri.
Saat ini menurutnya telah banyak investor yang akan masuk ke Indonesia dari berbagai negara.
"Sepuluh tahun kedepan, benua Eropa dan Amerika akan kesulitan mendapat tenaga kerja. Bahkan 2 tahun lalu kami kedatangan tamu dari Jerman yang membutuhkan tenaga kerja untuk mengisi industri mereka," terangnya.
Namun, saat ini daya saing tenaga kerja Indonesia untuk sektor primer paling rendah. Untuk itu BNSP sedang mengembangkan dan menerapkan skema sertifikasi untk ASEAN dan Internasional pada 12 sektor prioritas. hal ini juga dilakukan dengan kunjungan BNSP ke negara ASEANuntuk menawarkan skema itu.
"Jika skema itu diterima maka sertifikasi nasional di Indonesia juga diakui ASEAN. sekarang Jepang sudah menyetujui skema BNSPuntuk bidang otomotif," katanya.
Jika hal itu terwujud, maka Unmer sebagai pilot projet LSP 3 yang merupakan LSP tingkat nasional pada akhir desember bisa dideklarasikan Unmer Ready to ASEAN.
"Karena itulah kami sangat bangga karena Unmer akan menjadi sekolah model untuk sertifikasi. Sehingga lulusannya kompeten karena memiliki sertifikat profesi untuk dunia industr," ungkapnya.
Sekretaris LSP 3 Unmer atau LSP Manajemen Wirausaha dan Produktivitas ‘Merdeka’ (LSP MWPM), Praptining Sukowati menjelaskan, saat ini di Unmer sudah ada 6 prodi yang siap untuk membuka LSP 1, sedangkan 26 lainnya akan menyusul.
Enam prodi itu telah menyesuaikan kurikulum dengan standart internasional, dan dilakukan uji kompetensi setiap akhir perkuliahan. Sedangkan Unmer sendiri telah dijadikan Tempat Uji Kompetensi (TUK) untuk LSP MWPM dengan 50 asesor nya.
"LSP 3 itu LSP nasional jadi seluruh indonesia bisa disertifikasi disini. kami sudah berjalan selama 3 tahun dengan instansi terkait untuk memberikan sertifikat kompetensi bagi UMKM," paparnya.
Untuk memperlengkap asesor di berbagai bidang, saat ini dilakukan pelatihan pada 3 asesor lainnya, dan masih terus mengirim pelatihan asesor secara gratis ke BNSP. "Kami juga bekerja sama dengan Disnaker (Dinas Tenaga kerja) untuk pelatihan sertifikasi instruktur kewirausahaan," terangnya.