Malang Raya
Chef Nasional Ini Kembalikan Ciri Khas Pasar Tumplek ke Hotel
Chef Danang panggilan akrabnya berkeinginan untuk menciptakan ikon baru bagi restoran canting yang berada di lobi hotel.
Penulis: sulvi sofiana | Editor: fatkhulalami
SURYAMALANG.COM, KLOJEN – Selama 6 bulan, Atria Hotel and Conference Malang tidak memiliki seorang Executive Chef. Namun, sejak Juli 2015, hotel ini telah kedatangan Chef Danang Dwi Lukito (54) sebagai Executive Chef.
Pengalamannya sebagai ‘juru kunci dapur’ beberapa hotel di Indonesia menjadikannya ingin menghidupkan kembali pasar tumplek sebagai ciri khas Atria Hotel and Conference Malang.
Chef Danang panggilan akrabnya berkeinginan untuk menciptakan ikon baru bagi restoran canting yang berada di lobi hotel. Kemampuannya dalam dunia tata boga ia tunjukkan dengan life cooking pasta di restoran Canting, Selasa (18/8/2015).
“Jadi nantinya pelanggan tidak hanya sekali datang saja. Malang ini luar biasa perkembangan kulinernya, jadi kami perlu menciptakan inovasi yang baru dan kreatif agar dikenal orang di luar Malang,” papar alumni STP (Sekolah Tinggi Perhotelan) Bali pada tahun 1994 dengan peminatan TBMI (Tata Boga Masakan Indonesia).
Konsep pasar tumplek yang ia miliki dengan menyajikan bahan baku sebagai display dan akan menyajikannya sesuai dnegan keinginan tamu.
Misalkan display sayuran yang merupakan komoditas utama Malang, ikan lokal maupun diluar Malang semua akan imasak jika tamu memesan, bukan hanya sekedar memanaskan menu yang sudah tersedia. Baginya kemampuan memasak juga harus ditunjukkan melalui seni dalam menyajikan masakan.
“Atmosfer makanan di hotel akan diubah lebih hidup. Penampilan makanan yang menggugah selera tamu, meskipus proses pembuatan sulit, jika berakhir dengan kenikmatan tamu adalah kebanggaan seorang chef. Kalau makanan pasti akan ada ciri khasnya, setiap bulan saya akan menampilkan menu kreasi saya yang baru, tapi tunggu tanggal mainnya. ” papar chef yang mengawali karirnya di Grand Hyatt Bali sebagai seorang Daily Worker kitchen.
Selain itu ia juga aka menekankan manajemen peningkatan mutu masakan melalui keamanan pangan dan kebersihan. Pengembangan menu juga akan diterapkan bagi junior, hal ini dilakukan dengan pengembangan kemampuan agar termotivasi membuat makanan yang tidak hanya kenyang tapi juga menonjolkan seni.
“Indonesian food dengan western presentasi bisa sangat menarik saat ini. Yang terpenting adalah komposisi makanan masyarakat harus tetap seimbang. Jadi tidak sekedar menyuguhkan seni, tapi pertimbangan gizi yang seimbang juga akan diterapkan. Seperti sajian nasi merah sebagai pelengkap pengganti sayur,” jelas pria yang pernah menjabat Second Cook.di hotel Shangrilla Surabaya.
Dikatakannya kedepan ia akan tetap megusung Indonesian food dengan resep asli. Dan juga banyak berinteraksi dengan tamu agar mendapat masukan setelah menawarkan menu otentik.
“Jadi setiap masukan dari tamu kami akan mengetahui kebutuhan makanan nasional dan otentik di hotel kami,” kata pria yang pernah menjadi Chef de Partie di Radison Jogja.
Ia juga akan memperbaiki menu western yang selama ini tidak sesuai dengan estetikanya. Seperti penyajian pasta kering, sehingga cenderung lebih cepat mengenyangkan.
“Harusnya pasta itu basah dan dimakannya enak sehingga tidak gampang kenyang. Itu yang akan saya ajarkan kembali ke junior-junior,” tegas pria yang telah menjadi Executive Chef di Ibis Malioboro, Novotel dan Ibis Solo, Ina Garuda Jogja, Mercure Banjarmasin, The Sunan Solo dan yang terakhir adalah Pullman Surabaya ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/juru-masak_20150818_213013.jpg)