Malang Raya
Takut Sama Pasar Bebas? Belajarlah ke Orang Jawa di Suriname!
Mereka banyak berbaur dengan masyarakat lokal hingga tak jarang...
Penulis: sulvi sofiana | Editor: Aji Bramastra
SURYAMALANG.COM, LOWOKWARU - Kaboel Karso, seorang keturunan Jawa yang telah hidup di Suriname dan Belanda datang di Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang ( FIS UM), untuk memberikan seminar diaspora atau persebaran orang Jawa.
Kepala Program Studi Sosiologi, Drs Irawan, mengatakan, seminar ini merupakan perwujudan motivasi kepada mahasiswa Sosiologi untuk dapat menyambut globalisasi tidak hanya di negara sendiri.
Namun, warga jawa juga dapat berkembang di negara lain.
"Seminar ini sebagai wujud apresiasi orang jawa dari Indonesia yang mampu bertahan dan berkembang dimanapun. Ini sebagai bentuk motivasi juga dalam era globalisasi bahwa orang jawa tidak hanya tinggal di Indonesia menerima Budaya budaya masuk. Namun, juga bisa ke luar negeri menyebarkan budayanya," jelasnya.
Dengan mempelajari mobilitas penduduk, dapat diketahui bahwa keturunan Jawa ini berusaha untuk tetap hidup dan berhasil di negara lain. Bahkan mempengaruhi bahasa masyarakat lokal.
"Cara mempertahankan budaya Jawa dengan memakai nama yang masih sanaat kental dengan jawa seperti Kaboel karso," jelas Irawan.
Seminar ini dibentuk komunikasi dua arah sehingga antara pemateri dan mahasiswa bisa saling memberi pengetahuan.
"Diaspora dalam sosiologi berkaitan dengan pesebaran sosial dan aspek budayanya," paparnya.
Perkembangan Budaya jawa di Suriname menurut Kaboel juga berubah. Berbeda dengan adat jawa di Indonesia saat ini.
Mulai dari bahasa Jawa yang digunakan di Suriname yang menggunakan bahasa ngoko Jawa yang bercampur dengan Bahasa Inggris.
Bahasa ngokonya telah berubah dari jawa asli dan mereka sama sekali tidak bisa bahasa jawa krama.
"Disana masih ada yang namanya 'banyu jaran', kalau di Jawa saat ini biasa disebut 'banyu anget' atau air hangat. Jadi bukan hanya bahasa jawa yang saat ini sudah tidak ada di Indonesia yang digubahkan, tetapi juga ada bahasa jawa yang tercampur bahasa belanda, suriname atau bahasa etik dari sunda atau lainnya," jelas Irawan.
Orang Jawa yang tinggal di luar negeri menurutnya lebih fleksibel dan tidak sekreatif orang jawa asli.
Mereka banyak berbaur dengan masyarakat lokal hingga tak jarang ditemukan masyarakat lokal yang tinggal di daerah orang Jawa sewaktu-waktu mengeluarkan bahasa Jawa seperti 'amit' yang berarti permisi.
"Makanan disana juga ada macam-macam, bakwan juga ada, bahkan soto di suriname juga ada tetapi cenderung ke soto khas Solo. Namun pengucapan soto juga berubah menjadi Saoto," paparnya.
Karena perkembangan dan keberhasilan masyarakat Jawa untuk hidup di Suriname, orang jawa di Suriname dulu 33.000 orang, sekarang 75.000 orang. Bahkan kini ada 28.000 masyarakat jawa yang tinggal di Belanda. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/seminar-suriname-malang_20150824_225832.jpg)