Surabaya

Dolly Oh Dolly, Sudah Ditutup Wali Kota, Tapi Masih Jadi Sarang Prostitusi

“Kalau ada razia, saya hubungi PSK-nya agar segera keluar,”

Penulis: Zainuddin | Editor: eko darmoko
SURYAMALANG.COM/Zainuddin
Kasatreskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Takdir Mattanete bersama tiga tersangka mucikari, Selasa (25/8/2015). 

SURYAMALANG.COM, SURABAYA – Lokalisasi Dolly masih bergairah setelah ditutup oleh Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini setahun silam. Satpol PP dan Polrestabes Surabaya menangkap tiga mucikari dan tiga pekerja seks komersial (PSK) yang masih beroperasi.

Kasatreskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Takdir Mattanete, mengungkapkan sebenarnya pihaknya sudah lama mendapat informasi bila Dolly kembali beraktivitas. Tapi pihaknya kesulitan mengendus aktivitas di Dolly. Apalagi mucikari dan PSK tidak transaksi vulgar sebagaimana sebelumnya.

“Setelah kami yakin masih beroperasi, kami merazia Dolly pada Senin (24/8/2015) malam,” kata Takdir, Selasa (25/8/2015).

Dalam operasi ini, pihaknya tidak hanya menangkap Sugianto. Dua mucikari lain juga dikeler ke Mapolrestabes Surabaya, yaitu Sagito Darmaji dan Siti Halimah. Tiga PSK yang sedang melayani pelanggan pun dikeler ke Mapolrestabes.

Berdasar para tersangka, masih banyak mucikari dan PSK yang beroperasi. Sebagaimana tiga tersangka itu, mucikari lain juga tidak vulgar menawarkan jasa esek-esek ke pelanggan. Para mucikari memiliki kode untuk memberitahu rekannya bila ada petugas yang razia.

“Kami belum tahu mucikari dan PSK sekarang adalah eks Dolly atau ada yang baru,” tambahnya.

Mucikari yang beroperasi di Dolly memadukan modus lama dalam menjalankan bisnisnya. Sebagaimana modus sebelum ditutup, mucikari melambaikan tangan kepada pengendara yang melintas. Transaksi baru dibuka bila ada pengendara yang menghentikan kendaraannya.

“Tidak ada foto. Saya hanya menjelaskan ciri-ciri PSK-nya,” kata seorang mucikari, Sugianto, Selasa (25/8/2015).

Bisnis ini masih menggunakan wisma yang telah ditutup sebelumnya. Wisma ini memang tidak memperlihatkan aktivitas dari luar. Biasanya pengelola wisma mematikan lampu luar sehingga terkesan tidak ada aktivitas. Satpol PP atau polisi yang melakukan patroli pasti tidak mengetahui bila wisma itu masih beroperasi.

Agar aktivitas wisma tidak terlihat mencolok, pelanggan maupun PSK yang akan melayani tidak lewat melalui pintu depan. Pelanggan masuk melalui pintu belakang dan langsung masuk kamar. PSK yang datang menyusul pun masuk wisma melalui pintu belakang.

Menurutnya, para mucikari selalu waspada bila ada razia Satpol PP atau polisi. Mereka tidak akan melambaikan tangan kepada pengendara bila ada kendaraan Satpol PP atau polisi. Mereka akan nongkrong di warung kopi di sekitar wisma.

“Kalau ada razia, saya hubungi PSK-nya agar segera keluar,” tambahnya.

Setiap PSK dibandrol seharga Rp 200.000 - Rp 300.000. Harga ini belum tarif kamar seharga Rp 30.000 sekali pakai. Pelanggan bisa membayar sendiri tarif kamar atau membayar sekalian ke mucikari.

Tapi tidak semua PSK dibandrol minimal Rp 200.000. Mucikari yang memiliki lima anak buah ini mengungkapkan tarif itu berlaku bila banyak pelanggan. Bila sampai malam tidak ada pelanggan yang datang, dia mematok tarif sekitar Rp 150.000. Bila tarif itu sekalian biaya kamar, mucikari akan memotong sesuai harga kamar. Sisanya dibagi rata antara mucikari dan PSK.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved