Malang Raya
Dik Doank : Kurikulum Asmaul Husna untuk Semua Zaman
Dengan pedoman nilai Rohman Rohim, antara pendidik dan anak didik tidak ada jarak lagi, saling mengasihi dan menyayangi.
Penulis: sulvi sofiana | Editor: fatkhulalami
SURYAMALANG.COM, LOWOKWARU – Pola pendidikan saat ini dengan berbagai kurikulum dirasa masih belum dapat membuat masyarakat menjadi lebih melek pendidikan berbudaya.
Hal ini disampaikan Dik Doank (47) dalam Seminar Nasional ‘Menyongsong Satu Abad Kemerdekaan Indonesia Melalui Aktualisasi Pendidikan Berbudaya’ di gedung kuliah bersama Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang (FIP UM), Minggu (4/10/2015).
Pemilik nama asli Raden Rizki Mulyawan Kertanegara Hayang Denada Kusuma ini menjelaskan tema seminar yang diangkat Badan eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas MIPA UM ini tidak akan terwujud jika pendidikan saat ini tidak berubah. Yaitu masih menerapkan membaca, hitung dan tulis.
“Seabad kemerdekaan berarti 2045, cita-cita untuk aktualisasi pendidikan tidak akan terwujud jika pendidikan masih saat ini,” tegas bapak 3 anak ini.
Iapun menggambar secara acak dalam papan tulis di depan 350 mahasiswa fakultas MIPA. Melalui gambar acaknya itu, ia meminta 6 orang untuk menyempurnakannya dengan menambahkan mata dan sirip menjadi gambar ikan. Dari situlah ia bisa menggambarkan seseorang itu berproses dari menggambar, menghitung baru menulis.
“Menggambar merupakan kemampuan dasar daripada menulis, berhitung, maupun kemampuan-kemampuan lain,” tegas pendiri sekolah alam Kandank Jurank Doank ini.
Menurutnya hal ini berkebalikan yang diterapkan dengan sekolah sekarang yang menuntut anak didik mengasah otak kiri. Bahkan hal awal yang diajarkan adalah hal-hal yang sulit seperti berhitung dan menulis. “Padahal sekolah pertama di Indonesia itu taman siswa, bukan sekolah siswa,” lanjut pria 47 tahun ini.
Kurikulum yang paling bisa diterima untuk semua zaman, menurutnya adalah kurikulum Asmaul Husna. Tanpa perlu diubah tiap pergantian Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.
Dengan pedoman nilai Rohman Rohim, antara pendidik dan anak didik tidak ada jarak lagi, saling mengasihi dan menyayangi.
"Anak-anak harus diajarkan menciptakan seni, mencipta sesuai nama Allah ke 11. baru menghitung sesuai nama Allah ke-40,” jelas pria yang minta dipanggil om ganteng ini.
Merujuk pada pelaku yang memberikan pendidikan, khususnya mahasiswa yang akan menjadi calon pendidik. Alumnus Institut Kesenian Jakarta ini meminta peserta seminar untuk menggambar pohon berdasarkan versi peserta dalam kertas kosong. Setelah selesai, iapun membahas beberapa kriteria gambar yang dibuat peserta.
Diantaranya gambar pohon kecil menyisakan banyak ruang dalam kertas kosong yang menandakan orang itu kurang bergaul. Kalau ada gambar dengan rantingnya dan rantingnya patah-patah, menandakan penggambar sudah melalui banyak musibah.
“Kalau bayak buah dan hiasanya berarti dia sibuk menghias hidupnya sendiri. Sekarang dibaliknya kalian buat gambar baru, gambar yang kalian inginkan untuk jadi lebih baik,” tegasnya.
Dari hal itu, ia menunjukkan bahwa di kritik itu merupakan hal yang menyakitkan. Namun, seseorang harus bisa menerima kritik itu dan berkembang.
“Berbanggalah juga dengan diri kamu apa adanya, bangaa sebagai warga Indonesia karena kelebihannya,” jelasnya.
Setiap selingan motivasi yang ia sampaikan, tak segan ia mengajak seluruh peserta untuk berdoa bersama demi masa depan yang lebih baik.
“Jangan takut untuk miskin, semua berawal dari hal kecil,”katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/dik-doang_20151004_195509.jpg)