Malang Raya

Begini Ritual Warga Supaya Sumber Air Tidak Habis di Musim Kemarau

Dengan membawa tumpeng dan sesajen, sejumlah tokoh dari perwakilan warga tiga desa melakukan ritual selamatan di mata air.

Begini Ritual Warga Supaya Sumber Air Tidak Habis di Musim Kemarau
SURYAMALANG.COM/Ahmad Amru Muiz
Sejumlah tokoh tiga desa memanjatkan doa selamatan sumber air umbul gemulo, Jumat (23/10/2015). 

SURYAMALANG.COM, BATU - Tidak ingin sumber mata air surut di musim kemarau, Warga tiga desa menggelar ritual selamatan sumber air.

Yakni warga Desa Bumiaji, Desa Sidomulyo, dan Desa Bulukerja di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu bersama-sama melaksanakan selamatan di sumber air Umbul Gemulo di desa Bulukerto.

Dengan membawa tumpeng dan sesajen, sejumlah tokoh dari perwakilan warga tiga desa melakukan ritual selamatan di mata air.

Tokoh Spiritual Desa Bulukerto, Sunarto mengatakan, selamatan di sumber air Umbul Gemulo dilakukan tepat pada tanggal 10 bulan Suro. Dimana dengan selamatan tersebut sumber air Umbul Gemulo yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air bagi warga desa tetap lancar dan mencukupi meski di musim kemarau seperti sekarang ini.

"Sumber Air Umbul Gemulo ini sebagai Ciptaan Tuhan juga memiliki kehidupan tersendiri. Makanya dengan upacara Selamatan ini air dari sumber air Umbul Gemulo tetap keluar untuk mencukupi kebutuhan semua warga," kata Sunarto ditengah menjalankan ritual Sumber Air, Jumat (23/10).

Memang, diakui Sunarto, adanya musim kemarau yang berkepanjangan hingga sekarang ini menjadikan ketergantunan warga tiga desa terhadap sumber air Umbul Gemulo cukup besar.

Dimana air tersebut selain untuk pengairan tanaman di sawah juga untuk memenuhi kebutuhan air bersih dari warga. Bila saja sumber air Umbul Gemulo mengalami penurunan debit ait maka akan berdampak pada kekurangan air bersih dari warga di tiga desa.

"Maka dari itu, diharapkan dengan ritual selamatan ini air yang keluar dari sumber Umbul Gemulo tetap lancar dan mencukupi semua kebutuhan warga," ucap Sunarto.

Sementara Koordinator bersih desa dan gelaran ritual sumber air, Aris Faudin mengatakan, digelarnya ritual sumber air dan bersih desa memiliki makna lain yakni untuk pelestarian alam dan budaya.

Dimana pelestarian alam dan budaya tersebut bukan menjadi kewajiban dari kaum tua saja. Tetapi generasi muda juga memiliki tanggung jawab untuk ikut melestarikan alam dan budaya tradisional yang harus dijaga sampai kapanpun.

"Makanya, melalui ritual selamatan sumber air dan bersih desa kami harapkan generasi muda ikut merasa memiliki kewajiban melestarikan alam dan budaya tradisional," kata Aris Faudin.

Sedangkan rangkaian kegiatan budaya bersih desa, menurut Aris, dilakukan dengan arak-arakan ogoh-ogoh, budaya tradisional Islam rebana, pawai ta'aruf, drumband, tari Sanduk, dan sebagainya.

Penulis: Ahmad Amru Muiz
Editor: fatkhulalami
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved