Malang Raya
Jusuf Kalla Mendadak Batal Buka ICIS di UIN Maliki
Kegiatan itu dihadiri oleh 65 tokoh agama dunia dan ulama yang berasal dari sekitar 34 negara.
Penulis: Aflahul Abidin | Editor: fatkhulalami
SURYAMALANG.COM, KLOJEN - International Conference of Islamic Scholars (ICIS) resmi dimulai, Senin (23/11/2015). Pembukaan dilakukan oleh Wakil Menteri Luar Negeri Abdurrahman Mohammad Fachir.
Wakil Presiden Jusuf Kalla yang sedianya membuka kegiatan mendadak batal datang. Sebelumnya, presiden Joko Widodo yang dikabarkan akan membuka kegiatan juga tak jadi hadir.
Kegiatan itu dihadiri oleh 65 tokoh agama dunia dan ulama yang berasal dari sekitar 34 negara. Fachir saat konferensi pers berharap, pagelaran ICIS yang keempat itu dapat merangkul seluruh pemangku kepentingan di dunia Islam.
“Kita ingin Indonesia ada kontribusinya terhadap dunia internasional,” ucapnya.
Ia beraharp, dalam kegiatan yang digelar selama dua hari itu, dialog tentang toleransi dan modernisasi bisa dikupas secara terbuka. Para peserta diharapkan juga menyampaikan pandangan dan persepsinya tentang Islam Moderat. Hal ini memang menjadi tema utama yang disuarakan dalam pagelaran ICIS tahun ini.
Wawasan dari hasil ICIS, lanjutnya, akan disampaikan secara massal dangan beberapa cara. Misalnya, melalui media sosial. Cara ini dianggap ampuh untuk menyosialisasikan sesuatu di zaman serba internet ini.
“Selain itu melalui media, saya berharap nilai-nilai tambah dalam Islam tersampaikan,” ucapnya.
Sekretaris Jenderal ICIS KH A Hasyim Muzadi mengatakan, kegiatan ICIS penting di tengah maraknya kekerasan yang mengatasnamakan agama. Indoensia, kata dia, tak memiliki Undang-Undang yang menyaring ideologi kekerasan dengan alasan demokrasi.
Selain hubungan agama dan negara, konferensi tersebut juga akan berfokus pada moderasi ekonomi, sosial, budaya, dan politik.
“Dari sisi agama dan negara, agama bisa terimplementasi dengan bingkai nasionalisme dan pluralisme,” lanjutnya.
Sementara dari sisi ekonomi, wacana perihal keseimbangan ekonomi dan pemerataannya akan dijadikan ulasan penting.
Hasyim melanjutkan, identitas diri juga harus diatur tanpa harus dibenturkan satu sama lain. Kajian itu akan dibahas dalam moderasi sosial.
Sementara kajian budaya dan politik akan membahas soal karakter keislaman dan keseimbangan antara perwakilan dan amanat. Munurut Hasyim, kondisinya saat ini di beberapa negara, terutama Indonesia, tengah tumpang.
Konferensi tersebut juga diharapkan mampu mendorong Tanah Air sebagai pusat studi keislaman terdepan. Saat ini, posisi tersebut masih dimiliki Kairo, Mesir. Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Maliki Ibrahim Malang Prof Mudjia Rahardjo mengatakan, konflik berkepanjangan yang tengah terjadi di Timur Tengah memungkinkan pusat itu berpindah ke Indonesia.
Ket Foto:
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/foto-icis_20151123_214735.jpg)