Malang Raya

Sekolah di Malang Siap Ikuti Unas Berbasis Komputer

Siswa saat mengerjakan juga lebih fokus saat memakai komputer dibanding dengan kertas ujian.

SURYAMALANG.COM, LOWOKWARU - Sebanyak 47 sekolah siap mengikuti UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer) tahun 2016. Kesiapan sekolah mengikuti UNBK sudah dilaporkan ke Kemendikbud.

"Kami tadi juga sudah mengumpulkan operator dan kepala sekolah terkait pelaksanaan UNBK. Ya semacam memberi rambu-rambu saja. Juknis dari pemerintah belum ada," jelas Zubaidah, Kadindik Kota Malang kepada SURYAMALANG.COM, Kamis (26/11/2015).

Katanya dengan pertemuan itu setidaknya sekolah lebih mempersiapkan diri. Senyampang pelaksanaan masih jauh.

"Untuk jadwal unas sendiri belum diketahui kapan tahun depan," ujarnya.

Menurut dia, 47 sekolah yang ikut UNBK itu meliputi empat SMP, 23 SMA/MA dan 40 SMK. Untuk UNBK SMP, baru pertama kali ini ada lembaga sekolah ikut.

"Saat unas 2015 belum ada yang ikut," katanya.

Empat SMP itu adalah SMPN 1, 3, 5 dan SMP Charis Malang. Sedang untuk tingkat SMA meliputi seluruh 10 SMAN, MAN 1 dan 3 dan 13 SMA swasta seperti SMA Islam, SMAK St Albertus, SMAK Santa Maria, SMA Lab UM, SMA Surya Buana.

Sedang 40 SMK antara lain 13 SMK Negeri, SMK PGRI 2,3,6 dan 7, SMK Shalahudin 1, SMK Telkom Sandy Putra, SMK Widyagama dll. Zubaidah mengapresiasi banyaknya peserta UNBK mendatang.

"Berarti sekolah merasa lebih nyaman. Tingkat kejujurannya juga tinggi," kata dia.

Siswa saat mengerjakan juga lebih fokus saat memakai komputer dibanding dengan kertas ujian. Ditambahkan dia, sekolah-sekolah yang sudah siap melaksanakan UNBK maka siswanya juga bisa mempersiapkan dirinya.

Terpisah, Lathifah Shohib, anggota Komisi X DPR RI ketika di Universitas Negeri Malang (UM) kemarin menyatakan pemerintah menargetkan pelaksanaan UNBK bertahap.

"Diharapkan pemerintah sampai 2017-2018 semua sekolah sudah melaksanakan UNBK," ungkap Lathifah.

Untuk daerah-daerah maju, nampaknya pelaksanaan UNBK tidak masalah. Namun ia melihat kendala di daerah pedalaman. Terutama penyiapan instrukturnya, seperti komputer, jaringan internet.

"Kalau pengalaman UNBK lalu, memang khawatir pemadaman listrik," kata Zubaidah.

Namun kadang ada kejadian tidak terduga menjadi penyebab padam, misalkan ada konsleting. Ditambahkan Lathifah, dengan tidak dijadikan unas sebagai tolak ukur kelulusan, namun justru terjadi pemetaan menarik karena ada kejujuran siswa karena mengerjakan dengan tenang.

Berbeda ketika unas dijadikan faktor kelulusan. Sehingga kasek menargetkan siswa mendapat nilai unas tinggi.

"Tapi ternyata prosesnya tidak benar. Hal itu sebenarnya memberi pengalaman belajar tidak baik kepada siswa," pungkas Lathifah.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved