Kediri
Berdalih Tanah Leluhur, Warga Rawan Longsor Tolak Relokasi
Dari 63 kepala keluarga (KK) yang bersedia direlokasi hanya 32 KK. Sisanya 31 KK memilih tetap bertahan di rumahnya.
Penulis: Didik Mashudi | Editor: musahadah
SURYAMALANG.COM, KEDIRI – Warga kawasan rawan longsor Desa Blimbing, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur tidak semua mau direlokasi.
Dari 63 kepala keluarga (KK) yang bersedia direlokasi hanya 32 KK. Sisanya 31 KK memilih tetap bertahan di rumahnya.
"Kami sudah melakukan berbagai pendekatan untuk membujuk warga agar mau direlokasi. Tapi hanya 32 KK yang bersedia direlokasi," ungkap Juari (45), Kades Blimbing kepada Suryamalang.com, Sabtu (28/11/2015).
Zona rawan longsor di Desa Blimbing berada di Dusun Jeti dan Dusun Juron. Sedangkan lokasi relokasi berada di Dusun Broso yang berjarak sekitar 3 km dari zona rawan longsor.
Dijelaskan Juairi, rumah 63 warga tersebut berdasarkan hasil penelitian tim geologi masuk zona rawan longsor. Masalahnya, sudah ada rekahan tanah dengan lebar 5 - 10 cm sepanjang kurang lebih 300 meter.
"Rekahan tanah ini jika hujan deras dikhawatirkan memicu longsor. Kami khawatir karena saat ini mulai memasuki musim hujan," ungkapnya.
Warga sebenarnya menyadari rumahnya berada di zona bahaya. Namun dengan berbagai alasan memilih tetap bertahan.
"Ada saja alasannya, seperti rumahnya masih bagus serta akses jalannya lebih mudah. Termasuk tidak jauh dari sumber air," tambahnya.
Namun ada juga yang beralasan punya ikatan emosional dengan tanah dan rumah leluhurnya yang saat ini ditempati.
Meski begitu, warga yang tinggal di zona bahaya biasanya memilih mengungsi ke rumah kerabatnya jika ada hujan deras.
Ditambahkan Juairi, lokasi tempat relokasi di Dusun Broso memang akses jalannya masih belum bagus.
Selain itu air untuk kebutuhan sehari-hari juga agak jauh. "Masing-masing warga yang direlokasi mendapatkan kapling tanah seluas 7 ru atau 98 meter persegi," jelasnya.
Tahun lalu belasan rumah warga di Desa Blimbing rusak berat dan ringan akibat terkena bencana longsor.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Sosial Pemkab Kediri Eko Setiono memastikan warga yang menolak tetap diusulkan relokasi ke tempat yang lebih aman.
Warga yang bersedia direlokasi ini juga mendapatkan bantuan pembangunan rumah dari Menteri Sosial (Mensos) Khofifah masing-masing Rp 20 juta.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/sekeluarga-nganjuk-longsor_20150423_215026.jpg)