Blitar

Kasihan, Aremania yang Tewas Dikeroyok Suporter Surabaya Batal Rayakan Natal Bersama Ibunya

"Kami semua (Aremania) berduka dengan kejadian ini dan menyesalkan atas peristiwa ini. Namun demikian, kami sudah sepakat tak melakukan balas dendam,"

Kasihan, Aremania yang Tewas Dikeroyok Suporter Surabaya Batal Rayakan Natal Bersama Ibunya
SURYAMALANG.COM/Imam Taufiq
Korban semasa hidup 

SURYAMALANG.COM, BLITAR - Rasa duka menyelimuti keluarga Slamet (25), satu dari dua korban tewas Aremania. Minggu (20/12) siang sekitar pukul 10.00, mayat korban dimakamkan di pemakaman umum desanya, Pohgajeh, Kecamatan Selorejo, Kabupaten Blitar.

Jarak makam dengan rumahnya hanya 50 meter. Saat dimakamkan, tak hanya keluarganya, yang mengantarkan ke pemakaman, namun sejumlah aremania, dari berbagai kota juga ikut. Di antaranya, Aremania Blitar dan Malang. Terlihat Herry Noegroho, Bupati Blitar, juga berada di rumah duka.

"Kami semua (Aremania) berduka dengan kejadian ini dan menyesalkan atas peristiwa ini. Namun demikian, kami sudah sepakat tak akan melakukan balas dendam. Biar persoalan ini ditangani polisi," ujar Catur (22), Aremania Selorejo, yang ditemui di rumah duka.

Kematian Slamet, benar-benar membuat duka keluarganya, terutama ibunya, Ny Widi Mariani (44). Ia mengaku terpukul dengan kejadian itu, apalagi dirinya baru tiga hari berketemu korban, sejak delapan tahun ditinggal bekerja sebagai TKW ke Hongkong.

"Saya ini baru tiga hari bertemu dia. Saya bekerja ke Hongkong delapan tahun, dan baru pulang kemarin itu," tuturnya sambil menangis.

Karena itu, Mariani mengaku belum hilang rasa kangennya pada korban, yang tak lain anak pertama dari dua bersaudara. Bahkan, kepulangannya kali ini bermaksud, ingin menyenangkan korban. Di antaranya, ia ingin merayakan Natalan tahun 2015 bersama korban. Sebab, sudah lama tak merayakan Natalan bersama keluarganya.

"Kami sudah janji pada dia. Sejak saya masih di Hongkong, saya bilang, nak, saya akan pulang sebelum Natalan. Ibu, ingin merayakan Natalan di rumah, bersaudara-saudara. Rencananya, hari ini (kemarin) kami akan merayakan Natalan di rumah. Namun, tak tahunya, Tuhan berkehendak lain," paparnya, dengan sesenggukan.

Yang tak habis pikir ibunya, papar Mariani, mengapa korban juga membatalkan menjembut dirinya ke Bandara Juanda, Surabaya. Jika tak membatalkannya, menurut Mariani, kemungkinan, tak ada kejadian seperti ini.

Mariani menceritakan, dirinya itu datang dari Hongkong, pada 6 Desember 2015 lalu. Tiga hari di rumah, ia berangkat ke Kalimantan, untuk sambang anaknya yang kedua, Aprial, yang tak lain adik korban. Sekalian, ia juga menikahkan Aprial, yang dapat suami orang Kalimantan. Setelah menikahkan anaknya, Mariani balik ke Blitar.

"Nah, saya sudah bilang ke dia (korban), agar dijemput ke Bandara Juanda, Sabtu (19/12) pagi kemarin itu. Namun, malamnya, ia menelpon saya, kalau nggak bisa menjemput dan saya disuruh naik taksi (dari Juanda ke Blitar). Katanya, ia akan lihat sepak bola ke Jawa Tengah. Yo wes le, kalau nggak bisa," ungkapnya, dengan menyesal.

Halaman
12
Penulis: Imam Taufiq
Editor: fatkhulalami
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved