Blitar

Demi Dapat Air Bekas Mandikan Gong, Warga Rela Menunggu Berjam-jam

"Sejak jam enam pagi tadi, saya sudah menunggu di depan panggung. Itu supaya saya bisa terkena percikan airnya. Sebab, kami percaya,"

Demi Dapat Air Bekas Mandikan Gong, Warga Rela Menunggu Berjam-jam
SURYAMALANG.COM/Imam Taufiq
Warga berdesak-desakan dan berebut air bekas dipakai memandikan pusaka gong kyai pradah. 

SURYAMALANG.COM, BLITAR - Bersamaan umat Kristiniai sedunia merayakan natal, Jumat (25/12/2015) siang, ribuan warga di Kabupaten Blitar juga mengikuti upacara ritual, di Alun-Alun Lodoyo. Yakni, ritual memandikan pusaka Gong Kyai Pradah.

Meski itu berlangsung tiap tahun atau tiap memasuki awal bulan Maulud Nabi Muhammad SAW, namun antusias warga tetap tinggi. Lebih-lebih, tahun ini dilaksanakan di penghujung tahun atau bersamaan liburan panjang. Yakni, liburan sekolah, Natal dan Tahun Baru. Jumlah pengunjung yang datang ditafsirkan sekitar 10.000.

Mereka tak hanya berasal dari warga Kabupaten Blitar namun juga dari luar kota. Mulai Malang, Tulungagung, Kediri.

"Kami sudah empat tahun ini, selalu datang dan selalu menginap," tutur M Fadil (48), warga Desa Kedungrejo, Kecamatan Jajag, Kabupaten Banyuwangi.

Tak ada yang beda jauh, upacara ritual tahun ini tetap dihadiri Herry Noegroho, Bupati Blitar, dan wakilnya, M Riyanto, yang juga calon bupati terpilih, AKBP Muji Ediyanto, Kapolres Blitar. Seperti biasanya, selama berlangsung upacara ini, mbah Palil (92), juru kunci keempat Pusaka Gong Kyai Pradah, selalu memandunya.

Yakni, itu diawali dari Mbah Palil mengeluarkan Gong, dari tempatnya (pesanggarahan), kemudian diarak kelililing alun-alun. Selama diarak oleh mbah Palil, warga berebut, untuk bisa menyentuhnya. Sebab, dipercaya, apabila bisa menyentuh pusaka itu, akan membawa berkah.

Namun demikian, tak mudah karena harus berdesakan. Bahkan, petugas yang mengawalnya sampai kewalahan. Setelah diarak keliling alun-alun sebanyak sekali putaran, baru Gong yang dibungkus kain putih itu dinaikkan ke atas panggung. Tak lama berselang, rombongan pejabat setempat, yang dipimpin Herry naik ke atas panggung.

Sebagai penghormatan, Herry Noegroho memandikannya. Yakni, Gong itu disiram dengan air yang bercampur dengan bunga setaman. Airnya tak dibiarkan terbuang begitu saja melainkan ditampung pada bak, yang ditaruh di bawah gong tersebut.

Selanjutnya, air yang bercampur bunga itu disiramkan ke arah warga, yang menunggu di depan panggung.
Tak pelak, warga berebut agar terkena percikan air bekas penjamasan tersebut, Itu disiramkan dengan bergantian, mulai Bupati Herry Noegroho, Kapolres AKBP Muji Ediyanto dan istrinya, Ayu Rahmadani.

"Sejak jam enam pagi tadi, saya sudah menunggu di depan panggung. Itu supaya saya bisa terkena percikan airnya. Sebab, kami percaya, air bekas dipakai memandikan pusaka itu bisa membawa berkah. Selain, buat kesehatan (pengobatan), juga bisa membawa kebugaran tubuh, di antaranya supaya awet muda," papar Ny Mesni (50), warga Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang.

Setelah dimandikan, Gong yang dipercaya merupakan pusaka peninggalan Pangeran Prabu, adik Sri Susuhunan Pakubuwono I, Raja Kerajaan Kartasura itu, ditabuh sebanyak 7 kali oleh Bupati Herry. Setiap memukul gong itu, Herry selalu berucap, sae (baik) nopo awon (buruk)?

"Sae (baik)," jawab warga serentak.

Jawaban seperti itu, diyakini selama setahun ke depan, diharapan akan membawa kebaikan buat masyarakat Kabupaten Blitar.

"Tak hanya unsur ritualnya saja, namun upacara ini diharapkan bisa mendongkrak sektor wisata dan perekonomian warga," papar Herry.

Usai dimandikan, gong itu dikembalikan lagi ke tempatnya, di pesanggrahan, yang terletak di baratnya alun-alun tersebut.

Penulis: Imam Taufiq
Editor: fatkhulalami
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved