Malang Raya
Anak Jalanan Pilih Keluar Dari Pondok Pesantren, Karena ini
Program pendidikan terapan dari Kementrian Agama untuk anak-anak jalanan, terlantar di pondok pesantren masih berjalan dengan kuota 50 anak per tahun
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: fatkhulalami
SURYAMALANG.COM, KEDUNGKANDANG - Program pendidikan terapan dari Kementrian Agama untuk anak-anak jalanan, terlantar di pondok pesantren masih berjalan dengan kuota 50 anak per tahun di Kota Malang.
Saat ini, kegiatan itu dilaksanakan di empat ponpes.
"Kuotanya sejak 2011 sampai 2016 masih terbatas hanya 50 anak/tahun. Dananya dari Kementrian Agama pusat," jelas Mochtar, Kasi Pendidikan Ponpes Kementrian Agama kepada SURYAMALANG.COM, Minggu (3/1/2016).
Per anak mendapat dana Rp 6 juta yang diberikan ke ponpes untuk semacam biaya operasionalnya mereka selama setahun.
"Sebenarnya anggarannya kurang. Sebab Rp 6 juta itu untuk memenuhi semuanya. Mulai dari pendidikannya, pakaian, makanan," katanya.
Karena itu, tidak semua ponpes mau melaksanakan pendidikan terapan. Belum lagi risiko, misalkan peserta didik ogah di ponpes, sehingga merusak properti ponpes. Namun bagi ponpes yang mau melaksanakan itu, caranya mengajukan proposal ke Kementrian Agama. Anak-anak yang direkrut juga harus betul-betul mendapatkan perhatian khusus.
"Mereka yang dipondokkan juga diberi keterampilan," ujarnya.
Mereka usai menjalani pendidikan itu, diharapkan bisa masuk ke paket A, B, C atau melanjutkan ke MA. Sehingga kehidupan mereka menjadi lebih baik. Menurut Mochtar, memang peserta didik tidak semua melanjutkan pendidikan lanjutan. Namun ada juga yang mau meneruskan pendidikan misalkan ke aliyah dan kuliah. Tapi tak sedikit ada yang mrotol/drop out.
"Kalau kemudian memilih mrotol, ya kita tidak bisa apa-apa," jelas Mochtar.
Sebab memang bukan hal mudah merubah kebiasaan. Seperti mereka yang biasa mudah mendapatkan uang di jalanan. Sehingga hasilnya cepat untuk dibelikan rokok atau makanan.
Beda dengan kondisi di ponpes yang harus diatur.
"Tapi ada juga yang berhasil dan ingin melanjutkan kuliah," tutur dia.
Menurut Mochtar, meski pendidikan terapan sudah ada sejak 2011, namun kurang familiar di masyarakat. Dari persentase peserta yang mengikuti program ini, hanya 25 persen saja yang melanjutkan pendidikan lanjutnya.
Namun meski begitu, sebanyak 60 persen berhasil dirubah pola pikir, perilakunya. Sisanya, kembali ke jalanan. Alasannya karena di jalanan lebih bebas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/logo-kota-malang_20150806_184232.jpg)