Kediri
Embung Tarokan Kediri Tak Bisa Tampung Air, Ini Penyebabnya!
Pendangkalan menjadi penyebab embung seluas 5 hektar itu tidak dapat menampung air.
Penulis: Didik Mashudi | Editor: musahadah
SURYAMALANG.COM, KEDIRI - Sejak lima tahun terakhir, Embung Tarokan di Desa/Kecamatan Tarokan tak lagi berfungsi menampung persediaan air.
Pendangkalan menjadi penyebab embung seluas 5 hektar itu tidak dapat menampung air.
Karena ada pendangkalan, air yang mengalir dari kawasan lereng Gunung Wilis hanya sekadar lewat.
Tanah yang telah menutup embung ini berasal dari kawasan lereng gunung yang ikut hanyut karena terbawa bersama air hujan.
Hal ini terjadi karena tanaman yang ada di lereng gunung banyak diisi tanaman musiman.
Saat ini jagung dan palawija yang mendominasi tanaman kawasan lereng gunung. Padahal idealnya kawasan lereng dengan kemiringan yang curam harus diisi tanaman keras atau pepohonan berakar serabut.
"Sekitar lima tahun lalu embung pernah dikeruk, tapi dalam tempo setahun sudah tertutup sedimen lagi," ungkap Sukarni (48) salah satu warga kepada suryamalang.com.
Masyarakat, kata Sukarni sebenarnya tidak keberatan jika lahan lereng gunung dihutankan kembali. Karena masih ada alternatif untuk menanam umbi-umbian dan porang.
Dikonfirmasi terpisah Maman Rusmantika, Kepala Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Perhutani Kediri mengakui banyaknya tanaman semusim menjadi salah satu sebab terjadinya pendangkalan embung.
"Memang ke depan kami akan membenahi pola pemanfaatan lahan. Terlebih di lahan miring masih banyak dimanfaatkan untuk tanaman musiman," ungkapnya.
Kawasan lahan lereng pegunungan yang diperlukan alih komoditas hanya sekitar 10 persen dari total luas lahan Perhutani.
"Jika berfungsi, embung mampu memberikan manfaatkan untuk warga satu kampung," jelasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/embung-tarokan_20160217_161903.jpg)