Breaking News:

Malang Raya

Layanan Kesehatan Bagi Lansia Masih Minim, Ini Langkah Baznas

Sekitar separoh dari anggota binaan Baznas yang jumlah totalnya berkisar 8.500 orang masih bermasalah dengan gangguan kesehatan.

SURYAMALANG.COM/Aflahul Abidin
Konsultan Kesehatan Baznas dr Erna Susanti menyampaikan materi kepada para calon kader kesehatan Baznas, Sabtu (20/2/2015), di Kelurahan Kasin, Kota Malang. 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN – Penanganan kesehatan terhadap masyarakat miskin dinilai masih belum maksimal di Kota Malang, Jawa Timur.

Indikasi itu bisa dilihat dari data yang dimiliki Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Malang. Badan itu mencatat, sekitar separoh dari anggota binaan Baznas yang jumlah totalnya berkisar 8.500 orang masih bermasalah dengan gangguan kesehatan. Gangguan itu terutama menyerang para lansia.

Risiko tersebut coba dikurangi dengan membentuk kader kesehatan di sembilan kelurahan yang menjadi binaan lembaga itu. Kelurahan tersebut meliputi Jodipan, Arjowinangun, Buring, Cemorokandang, Merjosari, Kasin, Kebonsari, Kedungasri, dan Pandanwangi. Dari tiap kelurahan dipilih lima kader. Mereka dilatih perihal penyuluhan dan penanganan penyakit ringan, Sabtu (20/1), di Kantor Kelurahan Kasin.

“Sebab para kader nanti harus mendampingi para anggota baitul mal di kelurahan mereka. Satu orang ditugasi mendampingi 15 anggota lain. Memang belum menyeluruh. Ini langkah awal dulu,” kata Sekretaris Baznas Kota Malang Sulton Hanfi, sela kegiatan.

Baznas juga menyediakan dana Rp 750 juta yang berasal dari anggaran konsumtif untuk mendaftarkan para anggota yang butuh penanganan kesehatan intensif ke BPJS Kesehatan. Anggota yang akan didaftarkan akan dipilah oleh para kader. Sulton bilang, layanan itu diutamakan untuk para anggota baitul mal yang hidup sendiri alias sebatang kara.

“Banyak cerita dari anggota kami yang sudah tua dan meninggal dalam keadaan sengsara. Mereka kebanyakan warga kurang mampu yang hidup sendirian,” tambahnya.

Konsultan Kesehatan Baznas dr Erna Susanti yang menjadi pembicara dalam pelatihan tersebut, mengatakan, bantuan BPJS Kesehatan akan diberikan selama setahun bagi anggota yang memerlukannya. Namun, ia mengarisbawahi bahwa bantuan diberikan apabila penanganan kesehatan tingkat bawah tidak memungkinkan.

Ia menjelaskan, prioritas pembentukan kader adalah memberi penyuluhan informasi kesehatan dari dasar.

Sebab itu, materi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut sebagaian besar meliputi informasi jenis-jenis obat, gejala penyakit ringan hingga berat, serta cara penanganannya.

“Apabila penanganan awal pada anggota yang didampingi sudah tidak bisa diatasi, baru kita akan siapkan bantuan pendaftaran ke BPJS,” ungkap dia.

Langkah awal yang harus dijalankan para kader nantinya, yakni mendata para anggotanya, mendatangi mereka satu per satu atau mengumpulkannya dalam forum, dan memberi edukasi.

Erna menanggap, cara semacam itu efisien menekan jumlah pertumbuhan penyakit pada para anggota baitul mal Baznas kurang mampu di Kota Malang.

Salah satu peserta dari baitul mal Jodipan, Kumalasari, menyebut, kelompoknya sudah siap untuk menjadi kader bahkan sebelum pelatihan digelar. Pasalnya, para kader sebelumnya telah berkecimpung dalam organisasi kesehatan di kelurahannya.

“Untuk penyuluhan yang dasar-dasar, kami sudah bisa. Hanya, kami perlu tahu bagaimana sistem pengkaderan yang dibuat Baznas saat ini,” ungkap dia.

Sulton mengatakan, rencana pembentukan kader ini baru percobaan. Karenanya, dari sepuluh kelompok baitul mal, hanya sembilan yang disertakan. Jika progresnya positif, rencanannya pembentukan kader akan ditambah. Baznas menargetkan, jumlah baitul mal selama 2016 akan naik menjadi 17 kelompok. 

Penulis: Aflahul Abidin
Editor: fatkhulalami
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved